Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Quran

Sudah menjadi sunnatullah bahwa seorang Rasul pasti akan dibekali dengan bahasa. Hal itu sangat berguna untuk menunjang dakwah yang diembannya, sebagaimana termaktub dalam Al Quran surat Ibrahim ayat : 4:

 

(وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوۡمِهِۦ لِیُبَیِّنَ لَهُمۡۖ فَیُضِلُّ ٱللَّهُ مَن یَشَاۤءُ وَیَهۡدِی مَن یَشَاۤءُۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ)

 

“Dan tidaklah kami utus seorang utusan kecuali (dibekali) dengan bahasa kaumnya agar ia dapat memberi penjelasan kepada mereka”.

 

Begitu pula yang berlaku dalam penurunan wahyu, yang selanjutnya dijadikan sebagai kitab penuntun umat. Ini dapat kita lihat pada al-Quran, Nabi Muhammad SAW diutus kepada bangsa arab, dan beliaupun berasal dari golongan Arab. Begitu pula al-Quran sebagai kitab yang diwahyukan kepada beliau juga berbahasa arab.

 

Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dengan demikian, dapat diketahui cara yang dapat ditempuh dalam rangka memahami pesan-pesan yang ada di dalam al-Quran sebagai kitab yang berbahasa arab. Dalam hal ini berupa metode yang digunakan oleh orang-orang arab dalam memahami bahasa mereka, meskipun ada beberapa lafadz dalam al-Quran yang tidak bisa dipahami, karena kata-kata tersebut telah mengalami perubahan seiring berjalannya waktu dan pekembangan bahasa arab. Namun perlu diingat bahwa hal tersebut tidak terlepas dari kenyataan bahwa al-Quran berbahasa arab.

 

Seiring berkembangnya zaman dan berbedanya situasi serta kondisi yang ada pada tiap-tiap kurun waktu, berbeda pula cara berpikir para ulama tafsir. Hal ini jelas berimbas terhadap hasil karya mereka yang berupa tafsir-tafsir mengenai ayat-ayat al-Quran. Mengenai kurun waktu sejarah penafsiran al-Quran secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga masa, yaitu: penafsiran al-Quran pada masa Rasulullah dan sahabat, penafsiran al-Quran pada masa Tabiin dan masa pembukuan tafsir.

SejarahTafsir al-Quran pada Masa Rasulullah dan Sahabat.

Rasulullah adalah satu-satunya tokoh yang dapat memahami al-Quran secara keseluruhan yang sekaligus mengemban tugas untuk menjelaskan tiap hal yang terkandung di dalamnya.

Demikian pula yang terjadi dalam kalangan sahabat, mereka dapat memahami al-Quran sebagaimana Rasulullah kecuali hal-hal yang sangat rumit dan detail. Ibnu Khaldun mengemukakan: ”Al-Quran diturunkan dalam bahasa arab dan gaya bahasa orang arab”, oleh karena itu seluruh sahabat nabi dapat memahaminya, hanya saja tingkat pemahaman mereka berbeda-beda”.(Qattan: 334)

Ibnu Qutaibah bekata: “Orang-orang arab tidak sama tingkat pemahamannya pada lafadz-lafadz gharib dan mutasyabih yang terdapat dalam al-Quran, sebagian dari mereka melebihi yang lain” .

Pada masa penafsiran al-Quran yang pertama ini, para sahabat berpegang pada tiga hal dalam menafsiri al-Quran:

 

1. Al-Quran.

Memang dalam satu bagian dari al-Quran ada ayat yang bersifat mujmal, akan tetapi pada bagian yang lain ditemukan ayat yang bersifat mubayyan, atau suatu ayat diturunkan dalam bentuk mutlaq atau ‘am, kemudian diturunkan ayat lain yang berbentuk muqayyad atau mukhassis. Dengan adanya macam-macam sifat dari ayat yang diturunkan dalam al-Quran tersebut, para sahabat menggunakan satu ayat untuk memahami ayat yang lain. Metode penafsiran ini disebut dengan metode penafsiran al-Quran dengan al-Quran.

 

2. Rasulullah

Ketika para sahabat mendapat kesulitan dalam memahami isi dari suatu ayat al-Quran, maka mereka akan mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk mendapatkan penjelasan dari beliau. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Nabi bersabda: “ketika diturunkannya ayat

الذين أمنوا ولم يلبسوا ايمانهم بظلم….الأية

“…yaitu orang-orang yang beriman dan tidak mencampur aduk iman mereka dengan perbuatan dzalim…” ,

Para sahabat sangat terbebani dan kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan keterangan yang ada dalam ayat tersebut, kemudian mereka bertanya kepada Nabi SAW: “siapakah di antara kami yang tidak mendzalimi dirinya sendiri?, Nabi menjawab: pengertian dari ayat tersebut bukanlah seperti yang kalian maksudkan, bukankah kalian pernah mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (Luqman as.):

 

ان الشرك لظلم عظيم

“Sesunguhnya yang dimaksud الظلم adalah perbuatan syirik”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Adakalanya Rasulullah juga memberi penjelasan suatu ayat tanpa didahului oleh pertanyaan para sahabat, seperti yang diceritakan dari sahabat Uqbah bin ‘amir ra.

سمعت رسول الله صالله عليه وسلم يقول وهو على المنبر: وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة،
ألآ وان القوة الرمى.

“Aku (Uqbah bin ‘amir) pernah mendengar Rasulullah bersabda diatas mimbar: “Persiapkanlah diri kalian (sahabat) untuk menghadapi mereka (orang-orang kafir) dengan kekuatan yang kalian kuasai, dan ingatlah bahwa kekuatan itu adalah memanah”

3. Ijtihad

Apabila tidak ditemukan penjelasan tentang suatu ayat, baik dalam al-Qur’an maupun dari keterangan Nabi, maka para sahabat, dengan kemampuan mereka sebagai orang arab yang dapat dipastikan mengerti serta memahami bahasa arab dari segala sisinya, berijtihad untuk memahami maksud dari ayat tersebut.

 

Beberapa sahabat yang dikenal sebagai mufassir adalah: Abu Bakar al-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asyari, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Umar bin Ash dan Sayyidah Aisyah.

 

Jumhur ulama berpendapat bahwa tafsir bil ma’tsur oleh sahabat ini mencapai derajat marfu’ apabila mempunyai tendensi asbabun nuzul. atau penafsiran tersebut termasuk dalam lingkup pembahasan tentang hal-hal yang tidak tidak bisa ditelusuri secara rasio. Apabila penafsiran tersebut tentang hal-hal yang bisa dinalar dan tidak disandarkan kepada Nabi, maka hukum tafsiran sahabat tersebut adalah mauquf. Akan tetapi sebagian ulama berpendapat “meskipun tafsir sahabat termasuk dalam peringkat mauquf, penafsiran tersebut harus kita terima, karena para sahabat adalah orang-orang yang ahli dalam bahasa arab sehingga sangat menunjang terhadap terbentuknya pemahaman yang benar pada al-Quran, dan mereka mengetahui dengan pasti situasi serta kondisi yang berhubungan dengan suatu ayat ketika diturunkan”.

 

Dalam kitab Al Burhan, Al-Zarkasyi berkata: “ketahuilah bahwa penafsiran al-Quran terbagi menjadi dua macam, adakalanya berdasarkan riwayat hadist Nabi atau sahabat dan adakalanya tidak berdasarkan riwayat hadist. Tafsir jenis pertama, bisa jadi penafsirannya datang dari penjelasan Rasulullah atau dari keterangan yang diberikan oleh sahabat atau para pembesar tabiin. Untuk penafsiran yang datangnya dari Nabi SAW, kita tinggal memeriksa kesahihan sanadnya, sedangkan untuk penafsiran yang datang dari sahabat, kita harus memeriksa ulang penafsiran tersebut dalam kitab-kitab yang memuat penfsiran-penafsiran sahabat. Jika mereka menafsiri al-Quran dari segi bahasa, maka tidak diragukan lagi kemampuan mereka dalam hal itu, dan selanjutnya kita bisa menggunakannya sebagai pegangan. Begitu pula tentang penafsiran suatu ayat yang asbabun nuzul dan qarinah-qarinah yang berhubungan dengan ayat tersebut diketahui oleh para sahabat”.

 

Ibnu Katsir dalam pembukaan tafsirnya mengatakan: “Pada saat ini, jika kita tidak menemukan penafsiran oleh al-Quran atau sunnah Rasullullah, maka kita harus kembali kepada aqwal sahabat, karena mereka menyaksikan secara langsung situasi dan kondisi yang berlangsung pada saat diturunkannya suatu ayat, serta mereka mempunyai pemahaman yang sempurna, juga ilmu dan amal yang shalih, apalagi para pembesar mereka seperti, Khulafaurrasyidin, Imam Arba’ah dan Ibnu Mas’ud”.

 

Dalam masa yang pertama ini belum ada sama sekali pembukuan terhadap tafsir, dan tafsir masih menjadi salah satu bagian dari pembahasan hadits. Oleh karena itu tafsir-tafsir ayat al-Quran yang sudah ada masih tersebar dalam beberapa hadits dan belum mencakup seluruh ayat al-Quran.

Sejarah Tafsir Al-Quran Pada Masa Tabi’in

Seiring berjalannya waktu, maka kebutuhan umat dalam memahami isi al-Quran semakin meningkat. Dengan adanya penafsiran terhadap al-Quran yang terbatas pada hal-hal yang tidak dimengerti pada suatu kurun waktu, maka pada masa penafsiran ini masih terdapat banyak sekali ayat-ayat yang belum mempunyai penafsiran. Oleh karena tuntutan jaman yang semacam ini, maka muncullah ulama-ulama tafsir dari kalangan tabi’in.

 

Al-Ustadz Muhammad Husain al-Dzahabi mengatakan bahwa dalam menafsiri al-Quran, ulama tabi’in berpegang pada hal-hal berikut secara berurutan: pemahaman mereka terhadap apa yang ada dalam al-Quran dengan keterangan-keterangan yang sudah ada di dalamnya, penjelasan yang ada dalam hadits-hadits Nabi, penafsiran-penafsiran sahabat, keterangan dari para ahli kitab tentang apa yang ada dalam kitab mereka, dan pemahaman yang mereka dapat dari hasil ijtihad mereka.

 

Selanjutnya dengan adanya perluasan daerah Islam, banyak ulama dari kalangan sahabat yang berpindah tempat dengan tujuan memperluas dakwah, dengan begitu banyak sekali ulama dari golongan tabi’in yang berguru pada mereka dan banyak pula madrasah-madrasah yang didirikan. Di Makkah didirikan Madrasah Ibnu Abbas dan di antara murid yang terkenal adalah: Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah (budak yang dimerdekakan Ibnu Abbas), Thawus bin Kisan al Yamani, dan Atha’ bin Abi Rabbah.

 

Di Madinah sahabat Ubay bin Ka’ab adalah tokoh yang paling dikenal sebagai mufassir, beberapa tokoh tabi’in yang berguru pada beliau adalah: Zaid bin Aslam, Abu al-‘Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi. Di Irak muncul Madrasah Ibnu Mas’ud yang dianggap sebagai pelopor madrasah Ahli Ra’yi, tokoh-tokoh tabi’in yang belajar disana adalah: Alqamah bin Qais, Masruq, al-Aswad bin Yazid, Murrah al-Hamdani, Amir al-Sya’bi, Hasan al-Basri, dan Qatadah bin Da’amah al-Sadusi.

 

Akan tetapi setelah tafsir menjadi kajian yang menarik pada masa ini dan banyak tokoh kafir ahli kitab yang masuk Islam, para tabi’in banyak meriwayatkan kisah-kisah Israiliyyat dalam tafsir mereka, seperti yang diceritakan dari Ka’ab bin Akhbar, Abdullah bin Salam, Wahab bin Munabbah, dan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Jarih.

 

Sejarah Tafsir Al-Quran Pada Masa Pembukuannya

Pembukuan tafsir berawal pada akhir masa pemerintahan bani Umayyah dan awal pemerintahan bani Abbasiyah. Pada masa itu hadist mendapatkan perhatian yang sangat besar dan kajian tafsir menjadi salah satu cabang pembahasan dalam hadits.

 

Dengan adanya semangat yang besar dalam mengumpulkan hadits, para ulama tertarik untuk mengumpulkan tafsiran-tafsiran yang disandarkan kepada Nabi SAW, sahabat dan tabi’in. Tokoh-tokoh yang berperan besar dalam hal ini adalah: Yazid bin Harun al-Sulami (wafat pada tahun 117 Hijriyah), Syu’bah bin al-Hajjaj (wafat pada tahun 160 H.), Waqi’ bin al-Jarrah (wafat pada tahun 197 H.), dan lain-lain. Hanya saja tidak ada satupun penafsiran mereka yang sampai kepada kita sebagai satu kitab, kita hanya bisa menjumpai penafsiran mereka dalam kitab-kitab tafsir bil ma’tsur.

 

Kemudian setelah mereka muncul tokoh-tokoh yang menjadikan tafsir sebagai kajian yang independen, bukan lagi menjadi bagian dari bahasan hadits, diantara mereka adalah: Ibnu Majah (wafat tahun 273 H.), Ibnu Jarir al-Thabari (wafat pada 310 H.), Ibnu Abi Hatim (wafat pada 327 H.), Abu Bakar bin Mundzir al-Naisaburi (wafat pada 318 H.), Abu Syaikh bin Hibban (wafat pada 369 H.), al-Hakim (wafat tahun 405 H.), dan Abu Bakar bin Murdawaih (wafat pada 410 H.).

 

Pada kurun waktu selanjutnya, muncullah beberapa mufassir yang tidak lagi berpegang pada tafsir bil ma’tsur, mereka hanya meringkas pada sanad-sanad dan mereka memasukkan pendapat-pendapat tanpa mencantumkan siapa yang mengeluarkan pendapat tersebut. Sehingga pada masa ini mulai muncul penafsiran-penafsiran yang berbau kesukuan, pembelaan terhadap madzhab dan para mufassir cenderung berpegang pada pemahaman individual dalam rangka menafsiri al-Quran.

 

Tiap pakar disiplin ilmu saling memunculkan disiplin ilmu mereka dalam tafsir yang mereka susun, seperti Ibnu Arabi sebagai tokoh tasawwuf yang menjelaskan makna-makna isyarah dalam tafsirnya. Al-Tsa’labi dan al-Khazin yang memunculkan kisah-kisah karena mereka adalah sejarawan, al-Jasshas dan al-Qurthubi yang menjelaskan tentang masalah-masalah furu’ disebabkan mereka adalah ulama fiqh.

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perjalanan tafsir al-Quran dimulai dari proses turunnya, yaitu pada masa Rasulullah dan sahabat kemudian berlanjut ke masa tabi’in saat wahyu telah sempurna diturunkan, lalu penafsiran al-Quran terus berlanjut seiring berjalannya jaman dan semakin besarnya kebutuhan umat tehadap penjelasan tentang kandungan ayat-ayat al-Quran yang berlanjut hingga saat ini. Akan tetapi tafsir baru dibukukan ketika memasuki masa yang ketiga, yaitu pada awal masa pemerintahan Abbasiyah.

Bagikan

Leave a Comment