Sejarah pertumbuhan dan Perkembangan Ushul Fiqih

Secara pasti, tumbuhnya ilmu usul fiqih bersamaan dengan tumbuhnya ilmu fiqih, meskipun pembukuannya lebih dahulu ilmu fiqih. Sebab tumbuhnya ilmu fiqih tidak terlepas dari kaidah / metode yang digunakan dalam penggalian hukum fiqih itu sendiri. Metode penggalian hukum ini tidak lain adalah ilmu usul fiqih.

Masa Nabi SAW

Pada masa Nabi Muhammad masih hidup, seluruh permasalahan fiqih (hukum Islam) dikembalikan kepada Rasul. Pada masa ini dapat dikatakan bahwa sumber fiqih adalah wahyu Allah SWT. Namun demikian juga terdapat usaha dari beberapa sahabat yang menggunakan pendapatnya dalam menentukan keputusan hukum. Hal ini didasarkan pada hadis muadz bin Jabbal sewaktu beliau diutus oleh Rasul untuk menjadi gubernur di Yaman. Sebelum berangkat, Nabi bertanya kepada Muadz:

 

كيف تقضى فقال أقضى بما فى كتاب الله قال فإن لم يكن فى كتاب الله قال فبسنة رسول الله ص. قال فإن لم يكن فى سنة رسول الله ص. قال أجتهد رأيى قال الحمد لله الذى وفق رسول رسول الله ص.

 

“Bagaimana engkau akan memutuskan persoalan?, Muadz bin Jabbal menjawab: akan saya putuskan berdasarkan

 

Perkembangan Usul Fiqh

Kitab Allah (al-Quran), Nabi bertanya: kalau tidak engkau temukan di dalam Kitabullah?. ia jawab: akan saya putuskan berdasarkan Sunnah Rasul SAW. Nabi bertanya lagi. kalau tidak engkau temukan di dalam Sunnah Rasul?!, ia menjawab: saya akan berijtihad dengan penalaranku, maka Nabi berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi Taufiq atas utusan Rasulullah SAW (HR. Tirmizi).

Dari keterangan diatas dapat dipahami bahwa usul fiqih secara teori telah digunakan oleh beberapa sahabat, walaupun pada saat itu usul fiqih masih belum menjadi nama keilmuan tertentu. Salah satu teori usul fiqih adalah, jika terdapat permasalahan maka pencarian keputusan pertama adalah melihat di dalam al-Quran, kemudian hadis. Jika dari kedua sumber hukum Islam tersebut tidak ditemukan, maka seorang ulama harus berijtihad. baik ijtihad dengan menggunakan qiyas, maslahah ataupun menggunakan dasar-dasar yang lain.

Masa Sahabat

Semenjak Nabi Saw wafat, pengganti beliau dalam proses penggalian hukum Islam adalah para sahabat. Periode ini dimulai setelah Nabi wafat (11 H) sampai pertengahan abad 1 H (50 H). Pembinaan hukum Islam dipegang oleh pembesar sahabat, seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Tholib dan Ibn Mas’ud. Pada masa ini pintu ijtihad / istimbat telah mulai dikembangkan, yang pada masa Nabi Saw tidak pernah mereka gunakan, terkecuali dalam permasalahan yang amat sedikit, Para sahabat menggunakan “al-Ra’yu” dalam melakukan ijtihad.

 

Istilah “al-Ra’yu” dalam pandangan sahabat –seperti yang dikemukakan oleh Ibn Qayyim dalam kitab I’lam al-Muwaqqi’in- adalah sesuatu yang dilihat oleh hati setelah terjadi proses pemikiran, perenungan dan pencarian untuk mengetahui sisi kebenaran dari permasalahan yang membutuhkan penyelesaian. Al-Ra’yu dalam pengertian ini mencakup qiyas, istihsan dan istishlah. Meskipun demikian mereka belum menamakan metode penggalian hukum seperti ini dengan nama ilmu usul fiqih, tetapi mereka telah mengamalkan metodenya.

 

Masa Tabi’in

Pada masa tabi’in, penggalian hukum Islam semakin meluas, oleh sebab berbagai permasalahan baru muncul kepermukaan. Hal ini tidak terlepas dari imbas meluasnya daerah kekuasaan Islam, lalu ulama tersebar ke seluruh pelosok negeri, yang mana banyak ulama tabi’in yang berijtihad, selain juga disebabkan oleh orang-orang non-Arab yang banyak yang memeluk Islam.

 

Pada periode ini terdapat pengembangan dari metode yang telah digunakan para sahabat. Tokoh-tokoh dan Pembesar tabi’in yang sering berijtihad dan memberikan fatwa antara lain: Said bin Musayyab di kawasan Madinah dan Ibrahim al-Nakha’i di kawasan Irak. Sebagai dasar di dalam berijtihad dan memberikan fatwa mereka mengembangkan metode yang pernah dirintis oleh sahabat, selain juga telah menambah dan menggunakan dasar lain, yakni Qawl Sohabi (fatwa sahabat). Namun demikian ilmu usul fiqih pada periode ini masih belum terbukukan.

Masa Tabi’ Tabi’in (Imam Madzhab)

Pada periode imam-imam mujtahid madzhab, metode penggalian hukum bertambah banyak, baik corak maupun ragamnya. Dengan demikian bertambah banyak pula kaidah-kaidah istinbat hukum dan teknis penerapannya. Sebagai contoh Imam Abu Hanifah dalam memutuskan perkara membatasi ijtihadnya dengan menggunakan al-Quran, Hadis, fatwa-fatwa sahabat yang telah disepakati dan berijtihad dengan menggunakan penalarannya sendiri. Abu Hanifah tidak mau menggunakan fatwa ulama pada zamannya. Sebab ia berpandangan bahwa mereka sederajat dengan dirinya. Imam Maliki –setelah al-Quran dan Hadis- lebih banyak menggunakan amal (tradisi) ahli madinah dalam memutuskan hukum. Demikian pula imam-imam yang lain.

 

Pada periode inilah ilmu usul fiqih dibukukan. Ulama pertama yang merintis pembukuan ilmu ini adalah Imam Syafi’I. yaitu seorang ilmuan bangsa Quraish. Ia memulai menyusun metode-metode penggalian hukum Islam, sumber-sumbernya serta petunjuk-petunjuk usul fiqih. Dalam penyusunannya ini, Imam Syafi’I bermodal peninggalan hukum-hukum fiqih yang diwariskan oleh generasi pendahulunya. di samping itu, rekaman hasil diskusi antara berbagai aliran fiqih yang bermacam-macam, sehingga ia memperoleh gambaran yang konkrit antara fiqih ahli Madinah dan fiqih ahli Irak.

 

Berbekal pengalaman beliau yang pernah berguru kepada Imam Malik (ulama Madinah). Selain itu Imam Syafi’i berguru kepada Imam Muhammad bin Hasan (ulama Irak dan salah seorang murid Abu Hanifah). Beliau juga mempelajari fiqih Makkah ketika berdomisili di Makkah sehingga menjadikannya seorang yang berwawasan luas. Dengan kecerdasannya menyusun kaidah-kaidah yang menjelaskan tentang ijtihad yang benar dan ijtihad yang salah. Kaidah-kaidah inilah yang dikemudian hari dikenal dengan nama usul fiqih. Oleh sebab itu Imam Syafi’I adalah orang pertama yang membukukan ilmu usul fiqih, yang diberi nama kitab “al-Risalah”. Namun demikian terdapat pula pendapat dari kalangan syiah yang mengatakan bahwa Imam Muhammad Baqir adalah orang pertama yang membukukan ilmu usul fiqih.

Masa Pasca Imam Syafi’i

Sesudah masa Imam Syafi’I, ilmu usul fiqih semakin berkembang pesat dan meluas dengan berbagai corak dan ragamnya. Berbagai buku usul fiqih diterbitkan, semisal kitab al-Burhan fi Usul al-Fiqh karya Imam Haramain (419 – 478 H).  al-Mustashfa karya al-ghozali (505 H – 1111 M) juga merupakan kitab usul fiqih yang lahir sebagai madzhab Syafi’i. begitu juga beberapa kitab sebagai berikut: al-Mahsul fi Ilm al-Usul Fahruddin al-Razi (544 – 606 H), Irsyadul fuhul al-Syawkani (1255 H), Ilmu usul fiqih Abdul Wahab Khalaf (terbit kelima th1983 M) Usul fiqih Abu Zahrah, usul fiqih wahbah Zuhaili dll.

 

Namun demikian, aliran usul fiqih dapat diklasifikasikan kedalam dua corak, pertama, usul fiqih ahli sunnah dan usul fiqih syiah. Usul fiqih ahli sunnah bercorak Hanafi dan Jumhurul ulama. Hal yang melatarbelakangi beragam corak ilmu ini antara lain adalah perbedaan kecenderungan dalam merumuskan kaidah-kaidah dari hasil pemahaman terhadap teks sumber agama, al-Quran dan Hadis.

Bagikan

Leave a Comment