Perkembangan Islam di Jerman

Perkembangan Jumlah Pemeluk Islam di Jerman

Islam merupakan salah satu agama terbesar di dunia dimana para penganutnya di seluruh penjuru dunia senantiasa melakukan aktivitas keagamaan mereka dengan penuh semangat. Umat Islam di negara-negara non-muslim, meskipun jumlah mereka minoritas, tidak ketinggalan dalam menjalankan aktivitas dan memberikan sumbangan moral kepada masyarakat tempat mereka berada.

 

Di negara-negara Uni Eropa, terdapat sekitar 35 juta penduduk muslim.sarny Di Jerman yang merupakan salah satu negara utama dan padat penduduk di Uni Eropa, diperkirakan tiga juta muslim hidup di sana yang sebagian bea berasal dari etnis Turki. Angka ini masih belum pasti, karena meskipun pemerintah Eropa menyajikan data statistik yang tepat dalam semua bidang, tetapi tidak ditemui data yang benar dan bisa dipercaya mengenai umat muslim di Eropa. Yang jelas, Islam merupakan agama kedua terbesar di Jerman setelah Kristen.

 

Besarnya jumlah muslim di Jerman berakar sejak masa pemerintahan Turki Usmani (Ottoman). Saat itu, banyak umat Islam yang bermigrasi ke Jerman. Namun, peningkatan pesat jumlah muslim di Jerman terjadi pasca Perang Dunia ke II. Hal ini disebabkan oleh rekonstruksi yang sedang dijalankan oleh Jerman selepas perang yang membutuhkan banyak tenaga kerja yang murah. Suplai tenaga kerja pada masa tersebut sebagiannya datang dari Turki.

 

Umat Islam di Jerman merupakan kelompok populasi yang paling banyak meningkat sehingga 40 persen dari mereka berusia di bawah 18 tahun. Selain itu, warga Jerman asli yang memeluk agama Islam pun meningkat dengan amat pesat. Menurut suratkabar Perancis Figaro, baru-baru ini tercatat hampir 11 ribu rakyat Jerman telah memeluk agama Islam.

 

Pusat Simbol Islam di Jerman

Islam di jerman

Umat Islam di Jerman, sama seperti penganut agama lain, aktif dalam melaksanakan peribadatan dan dengan bangga menunjukkan identitas Islami mereka. Mereka mempunyai hampir 2200 masjid dan pusat agama di seluruh Jerman. Masjid-masjid terbesar di Jerman berada di kota Mannheim dan Berlin. Masjid Mannheim adalah masjid dengan kubah yang indah dan memiliki kapasitas 2500 orang.

 

Pusat kegiatan ke-Islaman lainnya yang sangat progresif di Jerman ialah Islamic Center Hamburg yang merupakan wadah bagi kaum muslimin Jerman untuk beribadat, berdakwah, berdialog, dan bertukar fikiran serta melakukan aktivitas-aktivitas Islami lainnya. Namun demikian, sebagian besar masjid dan pusat kegiatan umat muslim Jerman masih belum memiliki kondisi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tetapi seiring dengan meningkatnya kecenderungan rakyat Jerman terhadap Islam. Tuntutan terhadap adanya pusat agama yang lebih baik dan lengkap membuat pusat-pusat ini kini dalam tahap pengembangan dan penambahan.

 

Untuk mengembangkan pusat-pusat ke-Islaman tersebut dan untuk meraih posisi yang kuat di tengah masyarakat Jerman, umat muslim negara ini membentuk kelompok dan organisasi sejak akhir dekade 1960-an. Awalnya, organisasi-organisasi ini terbatas pada kelompok atau etnis tertentu. Namun pada akhir abad ke-20, telah mulai diambil langkah-langkah pembentukan sebuah pusat atau Dewan Tinggi yang bisa menjadi penghubung dan pemersatu di antara berbagai organisasi ke-Islaman Jerman.

 

Tetapi apa yang penting bagi umat Islam Jerman ialah bertambahnya jumlah orang-orang yang melaksanakan ajaran dan nilai-nilai agama Islam. Menurut sebuah penelitian, prosentase umat Islam Jerman yang secara kontinyu pergi ke masjid jumlahnya cukup tinggi. Selain itu, mereka juga menginginkan anak-anak mereka bersekolah agama agar mempelajari Al-Quran dan terjauhkan dari pengaruh budaya Barat yang merusak.

 

Suratkabar Figaro terbitan Perancis mencatat, “Kehadiran umat Islam Jerman ke masjid-masjid nampak sangat mencolok dan Paus agaknya memiliki impian kosong bila berharap umat Kristiani mendatangi gereja-gereja dengan antusiasme yang sama seperti umat muslim di Jerman.”

 

Fakta yang menarik dari kecenderungan umat Islam Jerman dalam melaksanakan kewajiban agama mereka adalah semangat anak-anak muda muslim dalam masalah ini. Penelitian yang dilakukan oleh Institiut Orientalis Hamburg yang tergabung dengan Kementerian Dalam Negeri Federal Jerman melaporkan adanya peningkatan keterikatan anak-anak muda kepada organisasi-organisasi Islam.

 

Universitas Bielefeld Jerman dalam penelitiannya juga menemukan bahwa sama seperti yang terjadi di Perancis, pemuda muslim Jerman cenderung untuk mengikatkan diri mereka dengan ajaran-ajaran Islam. Sambutan anak-anak muda muslim ini memberi kekuatan baru terhadap umat Islam Jerman karena anak-anak muda merupakan penerus masa depan setiap masyarakat.

 

Berlainan dengan UUD Perancis yang menolak agama, UUD Jerman tidak berfondasikan sekularisme sehingga agama-agama mendapat tempat dalam negara ini. Namun, pada pelaksanaannya, Jerman bukan saja tidak memberikan dukungan yang diperlukan oleh umat Islam, bahkan pemerintah negara ini juga bersikap diskriminatif terhadap kaum muslim.

 

Mayoritas umat muslim Jerman yang lahir di Jerman atau sudah sangat lama menetap di Jerman, tetap saja dianggap sebagai tamu asing dan warga kelas dua. Selain itu, kebebasan politik dan sosial yang didapat oleh umat Islam dan non-muslim tidaklah sama. Al-Ja’farawi seorang pemimpin umat Islam Jerman dalam hal ini berkata, “Islam merupakan agama kedua terbesar di Eropa setelah Kristen, namun meskipun Eropa memiliki slogan bahwa pemeliharaan identitas budaya minoritas agama harus dilindungi, agama Islam baik di Jerman atau di seluruh Eropa secara resmi tidak dihiraukan.”

 

Menurut Al-Ja’farawi, tiga juta umat muslim di Jerman sama sekali tidak diakui secara resmi oleh pemerintah Jerman, sementara kaum Yahudi yang hanya berjumlah 400 ribu diakui sebagai kelompok resmi.

 

Meskipun Jerman mengklaim diri sebagai negara pendukung demokrasi dan kebebasan beragama, opini anti Islam tampak beredar di kalangan pejabat Jerman. Jurgen Nielsen dalam bukunya yang berjudul “Umat Islam Eropa Barat” menulis, “Meskipun pemerintah Jerman memiliki silang pendapat dalam banyak masalah, tetapi mereka mempunyai pandangan yang sama dalam satu hal, yaitu menganggap imigran muslim bukan warga Jerman.

 

Kelompok fasisme dan Neo Nazi telah melakukan pembakaran masjid, dan partai-partai besar seperti Partai Sosial Kristen dan Partai Demokrat Kristen mengumumkan penentangan mereka secara terang-terangan terhadap pembangunan masjid dan penggunaan jilbab di negara bagian yang berada di bawah kontrol mereka.”

 

Media massa dan pemerintah Jerman akhir-akhir ini juga mengangkat topik jilbab. Mereka telah mengikuti langkah pejabat Perancis dengan berusaha untuk menyebutkan jilbab sebagai slogan dan propaganda agama tertentu. Gerhard Schroeder beberapa bulan yang lalu mengeluarkan perintah yang melarang pemakaian jilbab oleh karyawati kantor pemerintah Jerman termasuk para guru, dan juga larangan kepada pemakaian jilbab di sekolah-sekolah dan pusat pendidikan Jerman.

 

Padahal, beberapa bulan sebelumnya, Pengadilan Jerman telah mengabulkan tuntutan seorang guru muslimah yang telah dilarang mengajar karena menggunakan jilbab. Pengadilan Jerman memutuskan guru itu berhak kembali mengajar dengan menggunakan jilbab.

 

Di balik tindakan rasialisme dan diskriminatif yang dilakukan sebagian pejabat dan partai ekstrim Jerman, masyarakat Jerman justru semakin banyak yang tertarik kepada ajaran Islam. Berlandaskan kepada sebuah polling yang diadakan di Jerman baru-baru ini, mayoritas rakyat Jerman menganggap jilbab sebagai fenomena yang alami. Bahkan, dalam sebuah polling beberapa bulan lalu yang diselenggarakan sebuah lembaga Konrad Adenauer, dua pertiga peserta polling percaya bahwa umat Islam harus diberikan kebebasan untuk melaksanakan ajaran agama mereka.

 

Pandangan seperti ini menunjukkan bahwa pengenalan masyarakat Jerman terhadap Islam semakin bertambah dan kecenderungan mereka terhadap agama yang sempurna dan konstruktif ini, semakin meningkat. Lantas pertanyaan kita sekarang, sudahkah masyarakat Indonesia memiliki semangat mempelajari Islam sama besar seperti mereka yang ada di Jerman? Mari kita renungkan bersama.

Bagikan

Leave a Comment