Ngaji al-Qur’an

Ngaji al-Qur’an

Hidup dengan al-Quran

 

  1. Kita berusaha selalu mengaji al-Quran setiap hari, kita cari waktu khusus. Baca ayat setiap hari meski sedikit tapi istiqomah lebih baik dari pada banyak tapi tidak istiqomah. Rasulullah bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang pada hari Kiamat sebagai juru syafa’at (penolong) bagi pembacanya.” ( Muslim)

 

  1. Jika belum bisa mengaji, kita belajar kepada guru atau ustadz agar bisa mengaji. Tahap pertama mungkin mengaji baca tulis al-Quran. Tahap kedua mungkin belajar terjemah arti, lalu belajar memahami tafsir, dll.

 

  1. Kita berusaha berjuang mengajak orang ikut ngaji al-Qur’an dengan jiwa raga dan harta kita. Misalnya mengajak orang hadiri pengajian al-Quran, mengajak belajar ngaji meski umur sudah tua, membuat hataman satu bulan sekali, ikut berpartisipasi mencarikan murid TPQ atau pondok, dll.

 

وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“…dan berjuanglah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (QS. Al-Taubah: 41)

 

  1. Kita usahakan menjaga adab atau tata krama ketika membaca atau mengajar al-Quran. Misalnya kita ambil air wudhu dulu (dalam keadaan suci), duduk dengan sopan, berkopyah / berkerudung, al-Quran dipegang dengan sikap memulyakan, dll.

 

  1. Ketika mengaji al-Quran tidak perlu terburu-buru, kita baca pelan-pelan dan tartil. Kita juga berusaha tidak malu jika bacaan kita tersendat-sendat, belum lancar. Rasulullah bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an sedang ia pandai membaca, kelak mendapat tempat di dalam Surga bersama dengan Rasul-Rasul yang mulia. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an tapi tidak pandai, membacanya tersendat-sendat dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

  1. Rasulullah bersabda: “Perumpamaan mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma, tidak bau tapi rasanya enak dan manis. Perumpamaan munafik yang membaca Al-Qur’an seperti buah raihanah, baunya harum rasanya pahit. Dan perumpamaan munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah hanzalah, tidak bau rasanya pahit.” (HR. Bukhari & Muslim).

 

Al-Qur’an bijaksana

Al-Qur’an kabar nyata

Al-Qur’an pasti benar

Hidup dengan al-Qur’an

 

  1. Kita berusaha meyaqini, al-Quran sangat bijaksana, karena diturunkan oleh Allah, Dzat Yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui. Misalnya tidak bisa gunakan air untuk wudlu maka boleh tayamum. Tidak kuat puasa karena tua maka boleh bayar fidyah, ada qishosh yakni hukuman balasan setimpal agar tidak ada yang dirugikan, larangan riba, larangan zina, perintah menikah, pembagian waris, dll. Kesemua hukum dan ajaran al-Quran mengandung kebijaksanaan Allah Swt.

 

وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Naml: 6)

 

  1. Kita berusaha yaqini, al-Quran cocok untuk segala masa dan tempat. Kita hindari berpaling dari ajaran al-Quran dan mengambil ajaran yang bertentangan dengannya, agar kita selamat hidup di dunia dan akhirat.

 

  1. Kita berusaha yaqini, seluruh kabar dari al-Quran, baik janji-janji, ancaman, peringatan, alam akhirat, surga, neraka, cerita orang-orang terdahulu dan berbagai informasi dan kabar lainnya pasti benar dan nyata. Tidak ada yang lebih benar dan nyata dari Firman Allah.

 

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لا رَيْبَ فِيهِ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah?. (QS. al-Nisa’: 87)

وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلا

“Janji Allah pasti benar. Siapakah yang lebih benar perkataan-nya dari pada Allah?”. (QS. al-Nisa’: 87).

 

  1. Kita berusaha selalu menjadikan al-Quran sebagai pedoman dan pegangan hidup. Segala apa yang kita dengar, kita baca, jika tidak cocok dengan al-Quran, bertentangan dengan al-Quran kita abaikan, kita tinggalkan. Kita taati Allah (al-Quran), kita taati Rasul (Hadis), kita taati pemimpin kita sepanjang mentaati Allah dan Rasul-Nya (Ulama, dll).

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (al-Nisa’: 59).

 

Gurukanlah al-Qur’an

Pahamilah al-Qur’an

Ikutilah al-Qur’an

Hidup dengan al-Qur’an

 

  1. Kita berusaha belajar al-Quran dengan berguru kepada ahlinya, baik baca tulis, terjemah, bahasa Arab, nahwu, shorof, tafsir, dll.. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Quran dan mengajarkannya”. (HR. Bukhari).

 

  1. Dalam berguru kita perhatikan adab dan tata krama murid kepada guru. Antara lain, murid wajib memulyakan gurunya (misalnya cium tangan), berbahasa halus, bersikap sopan lagi merendah (tawadhu’), tidak memotong pembicaraan guru, tidak mendebat, sedekah pada guru, mengunjungi kediamannya, menghormati keluarganya, dll.

 

  1. Kita belajar memahami isi al-Quran, tetapi wajib ada guru pembimbing agar tidak salah dan tersesat. Bisa dengan mendatangi majlis ilmu (ngaji), menyimak kajian al-Quran di media sosial, seperti Group WA (Whats App) yang dipandu ustadz, atau belajar memahami di rumah masing-masing lalu ditashih ke guru pembimbing.

 

  1. Kita hindari memahami atau menafsirkan al-Quran sesuka hati atau sesuai dengan selera hawa nafsu kita, na’udzu billah. Ada pakem-pakem atau prosedur yang wajib diketahui dan dikuasai. Misalnya tahu bahasa Arab dan ilmunya, tafsir yang menuju cinta Allah, cinta akhirat bukan tafsir yang menuju cinta dunia.

 

  1. Kita berusaha mengikuti petunjuk atau ajaran dari al-Qur’an. Apa yang diperintah kita berusaha mentaati secara maksimal, apa yang dilarang kita tinggalkan sekuat-kuatnya. Kita amalkan al-Quran sesuai kemampuan. Allah tidak membebani seseorang amal yang tidak kuat ia pikul.

 

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. (QS. al-Baqarah: 286)

 

  1. Kita hindari sejauh-jauhnya membangkang, berpaling, kafir, dan durhaka pada Allah dan Rasul-Nya. Ancaman Allah bukan main-main, siksa yang pedih.

 

إِلا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ (23) فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الأَكْبَرَ (24)

“Tetapi orang yang berpaling dan kafir. maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar”. (al-Ghasyiyah: 23-24)

  1. Kita berusaha selalu menjadikan al-Quran sebagai pedoman dan pegangan hidup. Di dunia semoga selalu dibimbing Allah untuk bertaqwa, di akhirat semoga dimasukkan ke dalam surga-Nya, aamiiin.

 

 

Sampaikanlah al-Quran

Ajarkanlah al-Quran

Sebarkanlah al-Quran

Hidup dengan al-Quran

 

  1. Kita belajar mencontoh Rasulullah, menyampaikan ajaran al-Quran kepada orang lain. Kita sampaikan meski cuma satu ayat. Misalnya ketika kita memberi sambutan, ceramah, ketika mengingatkan orang, memberi nasehat, motivasi, dll. “Sampaikanlah apa yang kalian dapatkan dariku meski cuma satu ayat”, demikian pesan Nabi Saw.

 

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (al-Qur’an). Jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. (QS. al-Maidah: 67).

 

  1. Kita ingat-ingat, tugas kita hanya menyampaikan, bukan memberi hidayah. Hanya Allah yang berkuasa memberi hidayah. Kita belajar mencontoh Rasulullah, yaitu menyampaikan wahyu Allah. Hasilnya kita serahkan pada Allah Swt.

 

مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ

“Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. (QS. al-Maidah: 99).

 

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS. al-Qashash: 56).

 

  1. Kita belajar pemberani, berani menyampaikan ajaran al-Quran. Ketika kita diminta ngisi ngaji misalnya, maka kita terima dan jangan ditolak, kecuali ada udzur syar’i.

 

  1. Kita berusaha mengajarkan al-Quran, baik baca tulis, terjemah, bahasa Arab, nahwu, shorof, tafsir, dll. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Quran dan mengajarkannya”. (HR. Bukhari).

 

  1. Jika tidak bisa atau tidak sempat mengajar, kita bantu lembaga yang mengajarkan al-Quran (TPQ, Madin, ponpes, Masjid, mushola, dll.), dengan harta, tenaga, pikiran atau ketokohan kita. Kita perjuangkan agar lembaga tersebut maju, berkembang dan tidak roboh.

 

  1. Kita berusaha menyebarkan al-Quran ke masyarakat sebisa-bisanya. Misalnya ke sekolah atau kampus, melalui pengajian-pengajian (harian, mingguan, bulanan, tahunan), melalui media sosial, elektronik maupun cetak (Whats App, Facebook, CD, HP, buku, bulletin, dll), atau melalui dunia seni (lagu-lagu, qosidah, dll).

 

Bagikan

Leave a Comment