Memahami Tafsir dan Ta’wil

Arti Tafsir dan Ta’wil

Tafsir secara harfiyah merupakan bentuk masdar dari kata fassara yang berarti keadaan jelas (nyata dan terang) dan memberikan penjelasan. Adapun secara etimologi tafsir adalah menjelaskan lafadz yang sulit, sedangkan secara terminologis adalah : ilmu yang membahas tatacara mengucapkan lafadz al-Qur’an, dilalah, hukum, dan makna yang dikandung Pada intinya tafsir adalah menjelaskan hal-hal yang masih samar di dalam ayat-ayat al-Quran. Ahmad al-Syirbashi memaparkan ada dua makna tafsir dikalangan ulama, yakni:

 

1. Keterangan atau penjelsan sesuatu yang tidak jelas dalam al-Quran yang dapat menyampaikan pengertian yang dikehendaki.
2. merupakan bagian dari ilmu badi’,yaitu salah satu cabang ilmu sastra Arab yang mengutamakan keindahan makna dalam menyusun kalimat.

 

Pengarang kitab lisan al-Arab mengartikan tafsir dengan kata Kasyf al-Mughatha yang berarti penjelasan dari suatu hal yang masih tertutup. Oleh karenanya tafsir adalah penjelasan maksud yang sukar dari suatu teks ayat. Sementara itu, al-Dzahabi mengartikan dengan al-Idhah wa al-Tabyin yaitu penjelasan penjelasan dan keterangan. Pengarang al-Majmu al-Wasith mengemukakan bahwa tafsir bermakna wadhaha (menjelaskan) atau membuka sesuatu makna yang tertutup. Imam al-Zarkasyi mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu untuk memahami, mejelaskan makna, dan mengkaji hukum-hukum serta hikmah hukum tersebut dalam al-Quran.

Sebagian ulama mengartikan bahwa tafsir adalah rumusan ilmu tentang turunnya ayat-ayat al-Quran, sejarah dan situasi turunnya ayat tersebut, yang meliputi sejarah tentang turunnya ayat sebelum Nabi hijrah (makiyah) dan ayat setelah Nabi hijrah ke madinah (madaniyah), ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat, ayat-ayat nasikh mansukh, ayat khas dan ‘am, ayat halal dan haram, ayat perintah dan larangan dan lain-lain. Istilah tafsir dalam al-Quran dapat dilihat pada al-Quran, surat al-Furqan 25:

ولا يأتونك بمثل إلا جئناك بالحق واحسن تفسيرا

 

“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil melainkan Kami datangkan sesuatu yang benar dan yang paling baik penafsirannya (penjelasannya)”.

Adapun ta’wil secara etimologis adalah kembali pada asal. Menurut urf (kebiasaan) ulama muta’akhirin ta’wil adalah memalingkan lafadz dari makna yang unggul kepada makna yang diungguli karena adanya qorinah (indikator). Kata ta’wil dikatakan dalam al-Quran, surat al-Furqan 3:

وما يعلم تأويله إلا الله……. الأية

 

“Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah SWT…”

 

Perbedaan Tafsir dan Ta’wil

Ulama berbeda pendapat tentang perbedaan tafsir dan ta’wil. Hal ini dapat kita ringkas menjadi beberapa pendapat besar antara lain :

 

1. Ta’wil menurut Ibnu Jarir At Tabari adalah tafsir dan penjelasan makna kalam Allah. Dengan demikian tafsir dan ta’wil adalah muradif (mempunyai pengertian yang sama).

2. Ta’wil adalah maksud dari kalam. Dengan demikian Ta’wil dari perintah adalah melaksanaan hal yang diperintahkan.Ta’wil khabar adalah sesuatu yang dikabarkan. Berdasarkan hal tersebut ada perbedaan yang signifikan antara ta’wil dan tafsir. Hal itu disebabkan karena tafsir adalah penjelasan kalam. Posisinya ada di hati dengan penalarannya, dan di lisan. Sedangkan ta’wil adalah esensi sesuatu yang ada di luar. Jika dikatakan : ” matahari terbit”, maka ta’wil adalah wujud terbitnya itu.

3. Menurut sebagian ulama: tafsir merupakan sesuatu yang berhubungan dengan riwayat, sedangkan ta’wil adalah sesuatu yang berhubungan dengan dirayah.

4. Ada yang berpendapat bahwa tafsir adalah mayoritas yang digunakan dalam lafadz dan kata. Sedangkan ta’wil adalah sesuatu yang di gunakan dalam makna dan kalimat.

5. Al-Raghib al-Ashfahani, Ibn Manshur, al-Maturidi dan Abu Thalib al-Taghlibi berpendapat bahwa tafsir lebih umum dibanding ta’wil, sebab tafsir umumnya berfungsi menerangkan maksud yang terkandung dalam susunan kalimat. Ta’wil digunakan untuk menjelaskan pengertian kitab-kitab suci, sedangkan tafsir selain berfungsi demikian, juga berfungsi menerangkan hal-hal yang lainnya.

 

Namun demikian, karena fungsi keduanya sama, yaitu menjelaskan makna suatu ayat yang samar, maka ada kalangan ulama yang menyamakan maksud tafsir dengan ta’wil.

 

Sumber –Sumber Tafsir.

1. Wahyu.

Sumber-sumber tafsir mengandung arti adanya faktor-faktor yang dapat dijadikan acuan {pegangan} dalam memahami kandungan ayat-ayat al-Quran ia dapat digunakan sebagai penjelas, perbendaharaan dan perbandingan dalam menafsirkan. Dengannya, hasil penafsiran itu walaupun tidak benar namun setidaknya dapat mendekati kepada maksud asli ayat yang bersangkutan .

Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa sumber tafsir pada masa Rasulullah SAW. adalah wahyu. Kata “wahyu” mempunyai dua arti, pertama berarti al-iha’ dan kedua al-muhabih. Al-Iha’, secara etimonologis adalah memberitahukan sesuatu dengan cara yang samar dan cepat. Adapun secara terminologis berarti pemberitahuan Tuhan kepada Nabi tentang hukum-hukum-Nya, berita-berita dan cerita-cerita dengan cara yang samar tapi meyakinkan kepada Nabi, bahwa apa yang diterimanya adalah benar-benar dari Allah. Al-Muhabih artinya yang diwahyukan, yakni al-Quran dan hadits, tetapi dari segi maknanya datang dari Tuhan.

Oleh karena itu dilihat dari pengertiannya wahyu juga mencakup hadis-hadis Nabi. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya: ”Nabi tidak berkata menurut hawa nafsunya, tetapi apa yang dia katakan tidak lain adalah wahyu yang diberikan”. (Q.S. al-Najm 53), dan sabda Nabi: ”Ingatlah bahwasanya aku diberi al-Quran dan hal yang serupa dengannya ”. (H.R. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majjah dan Miqdam ibn Ma’dikariba). Jadi pada intinya sumber tafsir pertama ini mencakup al-Quran dan al-Hadis.

2. Al-Ra’yu (Logika).

Al-Ra’yu di sini adalah ra’yu Nabi Muhammad SAW. Karena beliau adalah satu-satunya manusia yang mendapat otoritas untuk menjelaskan maksud kandungan ayat-ayat al-Quran. Dengan demikian, maka penjelasan-penjelasan Nabi yang merupakan hasil ijtihad dengan menggunakan ra’yunya dapat juga dijadikan sumber tafsir. Petunjuk dalam memahami al-Quran dengan menggunakan ra’yu antara lain adalah kasus ‘Adi ibn Hatim yang berkata:

“Manakala ayat ini turun, yakni ayat: “hatta yatabayyana lakum al-khayth al-abyadh min al-khayth al-aswad” (hingga jelas bagimu benang putih dan benang hitam). (Qs. al-Baqarah 187), saya sengaja meletakkan ‘iqal (semacam ikat kepala) hitam dan ‘iqal putih dibawah bantal. Pada malam harinya kulihat itu, dan ternyata aku tidak mendapatkan kejelasan yang dimaksud. Pagi harinya aku menemui Rasulullah SAW dan kuceritakan peristiwa tersebut kepada beliau. Rasulullah menjawab: “Sebenarnya yang dimaksud dengan hal itu adalah pekatnya malam dan terangnya siang”.

Di samping itu terdapat juga riwayat-riwayat yang mengisyaratkan bahwa para sahabat Nabi menafsirkan al-Qur’an dengan kemampuan ra’yunya. Walaupun demikian, tafsir dengan ra’yu yang dilakukan oleh para sahabat tersebut setelah mendapatkan pembenaran dari Rasulullah SAW sendiri, baik melalui pengakuan (taqrir) atau pun koreksi (tashih).

Hal ini dapat dilihat antara lain pada riwayat yang menyatakan bahwa ketika terjadi perang Zat al-Salasil, Amr ibn al-Ash menafsirkan al-Quran surat al-Nisa’ 29, menjadi larangan membunuh diri sendiri dengan mandi junub dalam keadaan cuaca yang sangat dingin. Penafsiran ini berangkat dari pemahaman Amr ibn al-Ash mengenai hadas besar yang menimpanya sehingga mengharuskannya untuk mandi junub agar dapat memimpin jamaah Shubuh. Saat udara sangat dingin -dalam keadaan berhadas besar- ia hanya bertayamum untuk melaksanakan shalat, sebab bila mandi khawatir akan kematiannya. Peristiwa ini disampaikan Rasulullah SAW, kemudian beliau membenarkan ijtihad tersebut.

Menurut Abdul Muin Salim bahwa potensi pengetahuan yang dimiliki sahabat dalam menafsirkan al-Quran dengan ra’yu-nya adalah:

 

a. Penggunaan fenomena sosial yang menjadi latar belakang dan sebab turunnya ayat.
b. Kemampuan dan pengetahuan kebahasaan.
c. Pengertian kealaman.
d. Kemampuan intelegensia.

 

Sumber tafsir kedua ini tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai kebolehannya untuk dijadikan sumber tafsir. Perberdaan pendapat muncul sehubungan dengan apa yang dikutib dari tabi’in. Akan tetapi, kebanyakan ahli tafsir cenderung menggunakannya dalam menafsirkan suatu ayat, karena mereka banyak mendapatkan penafsiran ayat dari para sahabat.

 

3. Isra’iliyat.

Oleh para sahabat, Ahli Kitab dianggap memiliki pemahaman yang lebih baik dan luas. Wawasannya terhadap kitab-kitabnya (Taurat dan Injil). Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila keterangan-keterangan Ahli Kitab oleh sebagian sahabat dijadikan sumber untuk menafsirkan al-Qur’an. Sumber ini dikenal dengan istilah isra’iliyat.

Merujuknya para sahabat kepada Ahli Kitab dilakukan kepada mereka yang telah masuk Islam, seperti Abdullah ibn Salam, Ka’ab al-Ahbar, dan lain sebagainya, demi kesempurnaan kisah Nabi-Nabi dan bangsa-bangsa sebelum Muhammad SAW. Mengenai hal ini al-Syirbasi menyatakan bahwa sebagian ahli tafsir suka berlama-lama menyebutkan kisah-kisah kenabian dan bangsa yang telah silam bersumber kepada Ahli Kitab (Isra’iliyat).

Padahal pada saat yang lama, al-Qur’an hanya menyebutkan kisah itu secara ringkas dan global saja, karena al-Qur’an menginginkan sebuah ibarat, pelajaran dan perhatian kepada sunnatullah yang berkenaan dengan kehidupan sosial manusia, dan ingin menggambarkan pengaruh serta akibat pembuatan baik dan buruk dengan menampilkan kisah tersebut.

Dalam menyikapi kitab Ahkam al-Qur’an karya Jashash (w. 370/981) Julandari menyatakan bahwa dalam membahas makna ayat ia (Jashash) menyelidikinya dari bahasa terpakai, syair, al-Qur’an sendiri dan hadis yang betul-betul sahih. Ia seorang pemikir yang menolak setiap pendapat yang bertentangan dengan pikiran dan sejarah. Bahwa ada pendapat, apabila orang-orang yang datang sesudahnya melanjutkan metodenya itu, dapat dipastikan bahwa penggunaan isra’iliyat sudah lama hilang dalam kitab-kitab tafsir. Ahli tafsir kontemporer ‘A’isyah Abdurrahman menyatakan bahwa seluruh penafsiran yang bersumber dari isra’iliyat yang dapat mengacaukan harus disingkirkan.

Dari pendapat-pendapat di atas, tidaklah mengisyaratkan adanya larangan atau keharusan dalam mempergunakan keterangan-keterangan isra’iliyat sebagai sumber tafsir. Artinya, boleh bila tidak bertentangan dengan al-Quran, sunah dn ra’yu (logika). Ibnu Abbas, misalnya meriwayatkan dari Ka’ab al Ahbar tafsir al-raqim al-Quran surat al-Kahfi: 18, dan tafsir Sidrah al-Muntaha al-Quran surat al-Najm: 53. Demikian pula Abdullah ibn Amr diriwayatkan mengemukakan naskah-naskah dari Ahli Kitab dalam perang Yarmuk dan mengambil riwayat dari nasklah tersebut dalam menafsirkan al-Quran.

Untuk hasrat ingin tahu penggunaan isra’iliyat dimungkinkan sebagaimana para sahabat pernah melakukannya. Pada sisi lain, tidak adanya larangan tegas dari Rasulullah SAW, bahkan dalam sebuah hadits dari Abdullah ibn Amr Nabi SAW bersabda:…

wahadditsu ‘an bani isra’il wa la haraj…(berceritalah tentang bani Isra’il tiadalah dosa atas kamu…)”.

Dari contoh tafsir Ibn Abbas diatas terlihat bahwa penggunaan isra’iliyat tidak hanya terbatas pada ayat-ayat kisah umat terdahulu, tetapi juga mencakup ayat-ayat yang berkenaan dengan soal-soal gaib. Gejala ini berkembang pada masa-masa selanjutnya karena dalam tafsir itu diikutkan pula masalah-masalah rasional dan alamiah. Kenyataan seperti ini dipandang sebagai suatu aib bagi tafsir sehinggan timbul ide dan usaha untuk membersihkan isra’iliyat dengan analisis kritis.

Kedudukan dan Peranan Tafsir

Tafsir merupakan ilmu yang paling mulia, baik dari segi tema, tujuan, maupun kebutuhan. Karena temanya adalah kalam Allah yang menjadi sumber segala hikmah dan keutamaan. Tujuannya adalah kebahagiaan yang sesungguhnya. Sedang dari sisi kebutuhannya adalah setiap kesempurnaan agama dan dunia harus sesuai dengan syara’. Sedangkan kesesuaian dengan syara’ tergantung pada pengetahuan tentang kitab Allah.

Bagikan

Leave a Comment