Memahami Makna Simbol-Simbol Haji

Rukun Islam yang ke-5 adalah haji bagi yang mampu. Hal ini adalah sudah dipahami dan diyakini oleh umat Islam. Namun apakah pernah muncul pertanyaan; mengapa haji harus menjadi rukun Islam yang terakhir?. benarkah dalam ritual haji mengandung banyak rahasia?. jika memang demikian, benarkah asumsi sebagian orang yang menganggap bahwa haji tidak perlu diseragamkan (karena menimbang banyaknya kesulitan dan kemadlaratan)?. Banyak pertanyaan lain yang mungkin mendadak muncul seiring dengan perkembangan zaman yang menuntut jawaban-jawaban lebih rasional.

Haji adalah salah satu ritual yang paling berat, karena di samping harus siap secara lahiriyah juga dituntut sehat rohaniyah. Namun demikian, haji tidak lepas keterkaitannya dengan restu Allah. Banyak umat islam yang gagal menjalankan ibadah haji. Padahal mereka mampu menjalankanya. baik kemampuan material ataupun kemampuan inmaterial. saat di pertengahan perjalanan, banyak halangan yang menghalangi umat islam untuk gagal menjalankan ibadah haji tersebut.

Sebenarnya semua orang telah mendapat panggilan Allah, hal ini telah diisyaratkan oleh Allah dalam firmannya: “mengerjakan haji adalah kewajiban manusia” (QS 2: 97), hanya saja beraneka ragam manusia menyikapinya; ada yang ingin memenuhinya, mampu, serta melaksanakannya. Ada juga yang ingin dan mampu, tapi ada aral yang melintang, sehingga maksudnya tidak tercapai. Ada lagi yang mampu, kesempatanpun terbentang, tapi hatinya tidak tergerak, langkahnya justru menjauhi. Sebaliknya tidak sedikit yang berkeinginan haji tapi apa daya maksud tak sampai.

Untuk memahami makna haji secara benar kita harus menengok sejarah khalilullah Nabi Ibrahim as., sebagai seorang yang istimewa, karena ibadah tersebut sangat berkaitan erat dengan pengalaman ruhani Nabi yang agung itu. setidaknya ada 3 keistimewaan yang tidak dimiliki oleh nabi atau orang lain selain beliau, yang sekaligus dicerminkan dalam ibadah haji ini. Yang pertama adalah Ibrahim menemukan Tuhan setelah melalui pencarian dan pengalaman ruhani, dengan kata lain menjadikan pernyataan bahwa Tuhan itu Mahaesa. Dengan Ketuhanan Yang Mahaesa, Ibrahim as. mengumandangkan bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam, bukan Tuhan satu ras dan satu bangsa, ataupun Tuhan dalam satu periode tertentu.
Penguasa pada masanya, yang menyembah api, bertanya kepada Ibrahim as: “jika engkau enggan menyembah patung, mangapa tidak menyembah api?”

“Bukankah air memadamkannya?” jawab Ibrahim.
“kalau demikian mengapa tidak menyembah air?”
“Bukankah awan yang mengandungnya lebih wajar darinya?”
“Kalau demikian sembahlah awan!”
“Angin yang menggiringnya lebih berkuasa!”
“Kalau demikian mengapa tidak menyembah angin?”
“Manusia yang menghembuskan dan menariknya lebih mampu.”

Dialog yang terjadi menjadi sebuah bukti dan jawaban cerdas dari Ibrahim as. kepada manusia jika mereka mau merenung dan memikirkannya.
Keistimewaan beliau yang kedua, melalui beliaulah kebiasaan mengorbankan dan menjadikan manusia sebagai tumbal dibatalkan oleh Tuhan, bukan karena manusia terlalu mahal untuk dikorbankan. Tetapi bila panggilan Ilahi datang, maka tidak ada sesuatu apapun yang mahal. Itu semua adalah karena wujud kasih sayang-Nya. Makna yang bisa kita ambil dari sini adalah sisi kemanusiaan yang dikedepankan dalam ritual haji, hal ini tercermin ketika para jamaah haji diharuskan memakai pakaian ihram. Berbagai atribut dan pangkat yang sebelumnya terlihat jelas dari pakaian yang mereka kenakan. Dengan pakaian ihram tidak ada yang terlihat lebih tinggi derajatnya daripada Allah SWT.

Dan yang ketiga adalah Nabi Ibrahim adalah satu-satunya Nabi yang bermohon agar diperlihatkan bagaimana Tuhan menghidupkan yang mati dan ternyata permohonan itu dikabulkan oleh Allah. Keyakinan terhadap hari akhir, itulah yang ingin disampaikan oleh Allah pada kita melalui keistimewaan yang telah diberikan pada Ibrahim as.

Ketuhanan Yang Mahaesa, kemanusiaan, dan keyakinan adanya hari akhir adalah makna-makna terdalam dari setiap amalan ibadah haji. Tanpa menghayatinya, ibadah haji tidak memiliki banyak arti dalam kehidupan manusia.

Ritual ibadah haji mengandung banyak hikmah dan makna filosofis yang bisa kita petik. Secara runtut, mulai dengan syarat-syarat, rukun-rukun, dan sunah-sunah haji menjadi simbol yang menggambarkan betapa agung dan cerdiknya Allah dalam menyajikan pelajaran kepada hamba-Nya untuk mengarungi kehidupan yang sangat keras ini.

 

1. Niat

Pada awalnya, tentu adalah niat, Imam Ja’far menasehati agar sebelum kita memutuskan untuk berniat menunaikan ibadah haji agar berpasrah hati kepada Allah. Kita harus meyakini bahwa segala apa yang menjadi ketetapannya adalah yang terbaik bagi kita, janganlah bergantung pada selain-Nya, karena yang lain bukanlah pemberi kemanfaatan yang hakiki. Kendaraan, makanan, kesehatan, teman-teman atau yang lain adalah sebatas sarana, bisa jadi mereka malah akan menjadi musuh (penghambat) bagi kita. Dengan keyakinan demikian, maka kita akan merasa kecil di hadapan keagungan Allah, tiada kekuatan untuk melaksanakan ibadah atau untuk menjauhi larangan kecuali dengan pertolongan Allah. Jangan sampai dzikir labbaik Allahumma labbaik yang selalu kita kumandangkan menjadi bumerang yang berbalik menyerang kita, karena Tuhan menyambutnya dengan berfirman: “Engkau berbohong, engkau datang dengan maksud dan tujuan lain.”

 

2. Pakaian Ihram

Mungkin kita akan tersentak, ketika mengenakan pakaian ihram. Pikiran dan imajinasi kita akan spontan membayangkan lembaran kain kafan yang menyelimuti tubuh kita, yang mau tidak mau akan kita kenakan nantinya sebagai baju kebesaran mengahadap 2 malaikat di alam barzah. Akan terbayang di benak kita, bagaimana satu kaki kita melangkah menuju alam akhirat, dengan meninggalkan segala tetek bengek gemerlapnya dunia.

Tergambar persamaan, kebersamaan, dan ukhuwah. Tidak ada label kaya ataupun miskin pada diri seseorang, tidak ada lagi rasa minder karena berbeda status. Semua aktivitas dilakukan bersama-sama, di tempat dan di waktu yang sama. Rasa ukhuwah atau persaudaraan sesama muslim tercipta, tidak ada diskriminasi ras yang selalu menjadi polemic dan sebab perpecahan di Negara yang berpaham materialisme.

Semuanya menggunakan kain dan warna yang sama untuk menutupi tubuh. Warna putih menggambarkan kesucian, kebeningan, dan kesiapan diri kita menghadap Dzat Yang Mahasuci. Nafsu-nafsu hewani dan syaitoniyah (yang berwujud akhlak-akhlak tercela) terpupuskan dengan nur Ilahi (yang berwujud akhlak-akhlak terpuji) yang memancar dari dalam kejernihan hati. Menurut Dr. Nurcholis Majid, pakaian ihram itu putih-putih, putih artinya tanpa warna, melambangkan bahwa kita tidak mempunyai klaim mengaku paling baik.

Di saat-saat seperti itu, jauhkan diri kita dari segala hal yang dapat menghalangi kita untuk mengingat Tuhan, atau yang dapat merintangi kita untuk membuktikan kepatuhan kepada-Nya. Dengan demikian, segala kemewahan, atribut, dan pangkat yang menjadi kebanggaan dan kecongkakan seseorang akan sirna. Dengan pakaian ihram,. Apakah sekembalinya dari Tanah Suci, masih ada keangkuhan dalam jiwa? masihkah ingin menang sendiri dan menindas orang lain?, jika masih ada terdetik hal-hal sedemikian, maka kita masih tidak rela menanggalkan ‘pakaian’ yang biasa kita kenakan pada saat sebelum haji.

 

3. Ka’bah

Sekilas pada saat kita melihat Ka’bah, hanya tampak suatu bangunan persegi yang terbuat dari batu-batuan hitam dan tersusun dengan sangat sederhana. Setiap muslim mengenalnya sebagai arah yang dituju ketika shalat dan tempat yang dikelilingi saat thawaf. Namun tidak hanya itu, Ka’bah bagi umat Islam dijadikan Tuhan sebagai arah yang dituju sekaligus sebagai lambang bagi Tuhan itu sendiri, sehingga ketika kita dihadapkan dengan berbagai alternatif, maka ada kejelasan arah yang tetap menjadi tujuan, yaitu Tuhan semata yang menjadi tolak ukurnya.

Di sinilah letak kehebatan Islam, Islam tidak menghapus perbedaan dan tidak memerintahkan untuk meletakkan semua kepentingan dan kecenderungan dalam satu wadah. Bukankah ketika shalat berjamaah di Masjidil Haram, semuanya menghadap ke arah yang berlainan, ada yang menghadap ke utara, ke selatan, ke timur dan ke barat. Masing-masing berhak untuk memilih pijakannya, selama tetap mengarah pada satu arah yaitu Ka’bah. Bahkan ketika melaksanakan shalat sunah, kita diperbolebahhkan untuk menghadap ke arah manapun selain Ka’bah, karena akibat satu dan lain hal. Ada Hajar aswad di situ yang diibaratkan sebagai tangan Allah yang selalu kita rindukan untuk menjabat serta menciumnya, sebagai lambang kepuasan kita dengan segala ketentuan Allah dan kerendahan diri kita di hadapan-Nya.

Ka’bah merupakan wujud dan Keesaan Allah, berthawaf di sekelilingnya melambangkan aktivitas manusia yang tidak akan pernah terlepas dari-Nya. laksana matahari yang menjadi orbit tata surya yang dikelilingi oleh planet-planetnya. Apakah setelah thawaf di sana, dalam beraktifitas manusia masih terikat dengan Tuhannya?, jika tidak maka pertanda, bahwa sang haji sudah keluar dari orbitnya.

Sa’i yang secara harfiyah berarti usaha adalah lambang dari usaha mencapai kehidupan duniawi. Bukankah Hajar, ibu Ismail as. berlari ke sana ke mari dalam rangka mencari seteguk air untuk anaknya?. Setelah haji apakah kita tetap berpangku tangan menanti ‘hujan’ turun dari langit atau akan berusaha maksimal untuk melepas ‘dahaga’ yang mencekik leher kita? Apakah sekembalinya dari sana usaha kita seperti ketika melakukan sa’i?, dimulai dari Shafa yang berarti “kesucian dan ketegaran” dan berakhir di Marwah yang berarti “ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan”. Kalau usaha yang kita lakukan masih berangkat dari kekotoran dan tidak bermuara pada penghargaan dan kemurahan hati, maka layakkah kita disebut sebagai haji mabrur?

Tahallul atau ritual pemotongan rambut adalah symbol dari pemangkasan seluruh kesalahan lahiriyah dan batiniyah yang telah kita lakukan dan menjadi harapan semoga kesalahan-kesalahan itu tidak akan terulang.

 

4. Wukuf di Arafah

Arafah secara harfiyah adalah pengenalan. Wukuf di Arafah adalah inti dari haji, karena di tempat itu ia akan berusaha untuk mengenali jati dirinya, menyadari kesalahannya, berjanji untuk tidak mengulanginya, serta menyadari pula keagungan dan kekuasaan Allah. “man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu” barangsiapa menegenali jati dirinya maka ia akan mengenali Tuhannya. Sehingga setelah kembali, kita akan menjadi orang yang kuat dan tegar dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah sekalipun berbagai badai kehidupan menerpa silih berganti.
Terdapat sejumlah hadits yang menerangkan rahasia dan keutamaannya, di antaranya:

“Bahwa di antara sebagian dosa manusia, terdapat dosa yang tidak bisa dihapus, kecuali dengan wukuf di Arafah.”

Sejumlah ulama salaf, mengatakan apabila hari Arafah bertepatan dengan hari Jumat, maka semua ahli Arafah (orang yang wukuf) akan diberi ampunan, dan itu adalah satu-satunya hari yang paling utama di dunia. Karena pada hari itu Rasululullah melaksanakan haji Wada’ dan di saat beliau sedang wukuf, turunlah ayat 3 surat al-Maidah;

Hadits dan pernyataan ulama di atas, mengungkapkan rahasia symbol haji berupa Arafah. Arafah ini sengaja dipilih oleh Allah, sebagai hari yang sangat agung dan ditentukan dengan beberapa keutamaan. Semua itu mengingat pada beberapa peristiwa besar yang pernah terjadi pada hari dan tempat tersebut.

Ketika nabi Adam dan ibu Hawa diturunkan ke bumi, keduanya terpisah dari yang lain di tempat yang jauh. Tepatnya Nabi Adam diturunkan di India, sementara ibu Hawa di Jeddah. Suatu jarak tempuh yang memakan waktu beberapa bulan dengan berjalan kaki. Kemudian ketika Allah memerintahkan Adam agar melaksanakan haji, ia bertemu dengan Hawa di suatu tempat –sehinga keduanya saling mengenal- yang kemudiann disebut arafah, sebagaiman yang kita kenal sekarang. Di tempat itulah dua manusia pertama –Adam dan Hawa- mengakui kesalahan masing-masing dan berdoa memohon ampunan serta rahmat dari Allah Swt.

Jika kita amati ayat di atas mengandung beberapa hal yang sangat berarti bagi umat Islam. Pertama, dengan turunnya ayat tersebut, orang-orang kafir menjadi pesimis terhadap harapan mereka untuk memurtadkan umat Islam. Kedua, ayat tadi menginformasikan kepada umat Islam, bahwa ajaran-ajaran agamanya telah sempurna, sehingga tidak akan ada penambahan hukum syariat lagi setelahnya karena semuanya telah lengkap. Ketiga, pada hari itu Allah menyempurnakan nikmatnya dengan kesempurnaan ajaran agama. Karena nikmat Allah yang paling besar bagi umat manusia berupa agama Islam. Dan hanya dengan itulah merek bisa memperolerh kebahagiaan yang sebenarnya, yaitu masuk surga dan terbebas dari siksa api neraka.

 

5. Lempar Jumrah

Melempar jumrah adalh salah satu ritual ibadah haji yang bersifat simbolik. Walaupun sepintas ritual ini terkesan sangat remeh dan tidak masuk akal, namun ia mempunyai arti yang sangat mendalam. Selain dimaksudkan untuk mengikuti perintah agama dan mengabdikan diri kepada Allah, karena mengerjakan sesuatusemata-mata mengikuti perintah syariat Allah, walaupun tanpa didasari dengan pengetahuan mengenahi hikmahnya, merupakan indikasi mantapnya keimanan seseorang.

Ia juga dimaksudkan agar jamaah haji dapat mengingat kembali peristiwa nabi Ibrahim dan memposisikan diri mereka seperti beliau. Ketika iblis mendatangi nabi Ibrahim dengan maksud untuk membisikkan keraguan ke dalam hatinya atau memfitnahnya dengan kemaksiatan, maka Allah menyuruh beliau agar melempar iblis dengan batu untuk mengusir dan memutuskan cita-citanya.

Dalam hal ini perlu disadari, walaupun secara lahiriyah yang dilemparkan kea rah ‘Aqabah misalnya, hanyalah batu-batu kerikil yang tidak berguna, karena nilai-nilai yang ada di dalam ritual ini tidak dapat dijangkau oleh akal. Akan tetapi pada hakikatnya, jamaah haji ketika itu sedang melempari wajah setan (iblis) dan memecahkan tulang punggungnya.

Oleh karena itu, ketika jamaah haji ingin melempar jumrah dan ia merasa bahwa ritual ini hanyalah menyerupai permainan –sehingga ia lemah semangat- hendaklah perasaan ini dibuang jauh-jauh, karena itu merupakan bisikan setan. Dan ia harus melakukannya dengan penuh semangat, karena tak seorangpun bisa menghinakan wajah setan kecuali dengan cara yang telah diajarkan oleh Allah Swt., yang salah satunya berupa melempar jumrah.

Di samping itu, setiap kali ia melemparkan kerikil disunnatkan baginya membaca takbir yang menandakan kebesaran dan keagungan Allah, dan hanya Dialah yang mampu mengalahkan iblis dan sekutunya.

Pada saat melempar jumrah, kita diharapkan menyadari masih banyak kesalahan, hasrat, kehinaan, dan perbuatan-perbuatan jahat yang memang tidak patut kita miliki harus segera kita buang jauh-jauh. Di samping itu melempar jumrah juga menjadi simbol dari perlawanan kita yang abadi terhadap setan, yang selalu dan selalu memancing gejolak hawa nafsu sehingga tidak sabar ingin bermaksiat.

 

6. Menuju ke Muzdalifah

Ketika Nabi berangkat menuju ke Muzdalifah pada hari arafah, beliau bersabda: “Wahai manusia, hendaklah kalian berjalan dengan perlahan-lahan, karena kebaikan tidak akan didapatkan dalam ketergesa-gesaan”. Hadits ini mengajak para jamaah yang menuju ke Muzdalifah berjalan dengan perlahan dan penuh ketenangan agar mereka benar-benar bisa meresapi ibadah yang sedang mereka lakukan, serta menghindarkan diri dari sikap tergesa-gesa.

Jika kita amati lebih jauh, sebenarnya hadits di atas tidak hanya ditujukan bagi jamaah haji, akan tetapi ia juga mengajak kita semua agar selalu bersikap tenang dalam menghadapi setiap persoalan kehidupan ini. Tidak tergesa-gasa dalam mengambil keputusan, karena sikap tergesa-gesa justrru akan membuahkan hasil yang tidak baik, bahkan penyesalan selamanya.

Dengan pengetahuan kita akan berbagai symbol dalam ibadah haji, diharapkan ritual haji yang kita lakukan menjadi mujahadah baik secara lahiriyah maupun batiniyah sehingga mampu menghantarkan kita pada kesempurnaan Islam dengan oleh-oleh predikat haji mabrur.

Bagikan

Leave a Comment