Kajian Al-Qur’an Menurut Islam dan Barat

A. Prolog

Dalam al-Qur’an ditegaskan bahwa awal kehidupan manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Hanya karena suatu kedengkian maka terjadilah perselisihan anatar manusia yang berlanjut secara terus-menerus. Di sisi lain, dengan lajunya perkembangan penduduk dan pesatnya perkembangan masyarakat, muncullah pesoalan-persoalan baru yang memerlukan penyelesaian.

Untuk menjawab keadaan tersebut, Allah mengutus para Rasul yang berfungsi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Bersamaan diutusnya Rasul, diturunkan pula al-Kitab yang berfungsi menyelesaikan perselisihan dan menemukan jalan keluar dari berbagai problem yang dihadapi manusia. Sehingga di perlukan kajian Al-Qur’an dengan nuansa dialog teks yang memuat cakrawala makna di dalamnya dengan horizon pengetahuan manusia dan problematika kehidupan manusia.

Kajian Al-Qur’an yang tak pernah usang dimakan usia sampai kapanpun tetap layak untuk dikaji, karena semakin kita menyelami kedalaman ilmunya maka akan semakin banyak hal yang bisa diambil. Demi menyelami kedalaman al-Qur’an ini, kami mencoba untuk mengkajinya dari aspek normatif, yaitu suatu kajian yang membahas tentang pewahyuan al-qur’an, nuzul al-Qur’an, asbab an-nuzul, dan pembukuan al-Qur’an.

 

B. Pewahyuan Al-Qur’an

 

1.Situasi Arab Pra Islam

Jazirah Arab memiliki posisi cukup penting sebagai kawasan penyangga dalam ajang perebutan kekuasaan politik Timur Tengah saat itu yang di dominasi dua imperium raksasa, Bizantium, dan romawi. Dua kota besar yang sangat makmur dengan perniagaannya di daerah arab yaitu Mekkah dan Madinah (Yatsrib). Pada penghujung abad ke-6, para pedagang besar kota Mekkah telah memperoleh kontrol monopoli atas perniagaan yang lewat bolak-balik dari pinggiran pesisir barat Arabia ke Laut Tengah.

Kota ini memang sangat bergantung pada impor bahan makanan. karena itu kehidupannya yang khas adalah dibidang perniagaan dan kemungkinan besar hanya bersifat moneter. Di Madinah selain perniagaan juga ada hasil dari pertanian dengan panenan utamanya kurma.

Untuk mempertahankan eksistensi hidup ditengah-tengah kejamnya kehidupan padang pasir yang liar menuntut adanya rasa kesetiakawanan kesukuan yang tinggi diantara mereka. Bahkan dalam taraf yang lebih jauh, solidaritas kesukuan ini mengharuskan seseorang untuk berpihak kepada saudara sesukunya secara membabi-buta tanpa melihat salah atau benar.

Sedangkan situsasi keagamaan pada masa itu umumnya adalah politeisme, yaitu mereka mengakui banyak Tuhan seperti al-lata, al-uzza dan al-manat. Di sisi lain penganut agama Yahudi dan Nasrani hanyalah sedikit dan sudah tidak memiliki pengaruh yang berarti. (Amal: 23)

 

2.Nuzul Al-Qur’an

Menurut asy-Sya’bi ada dua tahap turunnya al-Qur’an Pertama, Allah menurunkannya secara keseluruhan pada malam lailatul qadar ke Baitul ‘Izaah yang ada di langit dunia. Kedua, aru kemudian setelah itu al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun kepada Nabi. Hikmah utama diturunkannya al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah untuk memperteguh hati Rasulullah dan agar mudah untuk di hafalkan.( Subhi as-Shalih, 49-50)

3.Asbab An-Nuzul

Secara Etimologi asbab an-nuzul adalah sebab yang melatar belakangi terjadinya sesuatu. Sedangkan dalam pemakaiannya ungkapan ini khusus digunakan untuk sebab turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Pengertian Terminologinya adalah suatu peristiwa tertentu, atau pertanyaan yang di tujukan kepada Nabi yang berkaitan dengan hukum syara’, atau penafsiran sesuatu hal tentang agama. kemudian turunlah ayat yang menjelaskannya. Kendati dengan redaksi yang sedikit berbeda namun para Ulama’ intinya sama dalam mendefinisikan asbab an-nuzul (Shabuni, 22).

Sedangkan persoalan apakah seluruh al-Qur’an memiliki asbab an-nuzul atau tidak ternyata di antara para Ulama terjadi perbedaan pendapat. Sebagian besar mereka berpendapat bahwa tidak semua ayat al-Qur’an memiliki asbab an-nuzul . Ada juga yang berpendapat kondisi sosial Masyarakat Arab pra Islam merupakam latar belakang makro di turunkannya al-Qur’an. Sementara riwayat-riwayat asbab an-nuzul adalah latar belakang mikronya. (Anwar, 62).

 

4.Makki & Madani

Makkiyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Mekkah. Sedangkan Madaniyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Madinah. (al-Qathan 61-12).

Ciri-ciri spesifik makkiyyah dan madaniyyah: (al-Qathan, 63-64)

Makkiyyah :

a. Di dalamnya terdapat ayat sajadah

b. Ayat-ayat yang dimulai dengan kata kalla

c. Dimulai dengan ungkapan yaa ayyuha an-naas, kecuali dalam surat al-Haj yang pada penghujung surat itu terdapat sebuah ayat yang dimulai dengan ungkapan yaa ayyuha al-ladzina

d. Ayat-ayatnya mengandung tema kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu

e. Ayat-ayatnya berbicara tentang kisah Nabi Adam dan Iblis, kecuali surat al-Baqarah

f. Ayat-ayatnya dimulai dengan huruf-huruf terpotong-potong (huruf at-Tahajji) seperti alif lam mim dan sebagainya, kecuali surat al-Baqarah dan ali ‘Imran

g. Suratnya pendek-pendek

h. Banyak mengandung kata-kata sumpah

 

Madaniyyah :

a.Mengandung ketentuan-ketentuan faraid dan had

b.Mengandung sindiran-sindiran kepada kaum munafik, kecuali surat al-Ankabut

c.Mengandung uraian tentang perdebatan dengan ahli kitab

d.Menjelaskan masalah ibadah, muamalah, warisan, keutamaan jihad dll

5.Munasabah

Ulama yang pertama kali menaruh perhatian terhadap masalah munasabah ini adalah Syaikh Abu Bakar an-Naisaburi (w.324 H) di Baghdad.( as-Suyuthi, 108). Secara etimologi, menurut As-Suyuti munasabah berarti al-Musyakalah (keserupaan) dan al-Muqarabah(kedekatan). Sedangkan secara terminology dalam konteks ini munasabah berarti menjelaskan korelasi makna antar ayat atau antar surat baik yang bersifat umum atau khusus, rasional, persepsi, imajinatif, sebab akibat, maupun perbandingan atau pelawanan.. Adapun urgensi dari munasabah adalah sebagai berikut: (Wahab, 94–95)

a. Menemukan makna yang tersirat dalam susunan dan urutan ayat, kalimat, maupun surat di dalam al-Qur’an. Sehingga tampak saling berhubungan dan menjadi satu rangkaian yang utuh dan integral.

b. Mempermudah pemahaman al-Qur’an. Serta menolak tuduhan bahwasanya susunan al-Qur’an kacau.

c. Memperkuat atas kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi, dan mukjizat Nabi. Meskipun terdiri lebih dari 6000 ayat diturunkan dalam keadaan, tempat, dan kasus yang berbeda selama lebih dari 20 tahun ternyata mempunyai keterkaitan makna antara satu bagian dengan bagian lainnya.

 

6. Kodifikasi Al-Qur’an

• Melalui Hafalan

Nabi adalah seorang yang ummiy. Otomatis, maka himmah Nabi hanya tercurahkan untuk menghafal dan melahirkannya, agar ia dapat dihafal sebagaimana diturunkan kepadanya. Lantas beliau membacakannya kepada para sahabat agar dapat hafal dan membacanya. Mereka berlomba-lomba untuk menghafal, membaca dan mempelajari al-Qur’an. Ssehingga huffazh di zaman Rasulullah tidak terhitung lagi jumlahnya.

Jelas hal ini tidak diragukan lagi. bahwa itu semua merupakan pertolongan Allah SWT khusus untuk kitab suci ini yang sekaligus merupakan tanda kemuliaan bagi umat Muhammad SAW. Dimana Dia telah menjadikan pelita pada dada-dada mereka, serta memberi kitab yang tidak luntur dibasuh oleh air. Sebagaimana firman Allah SWT:

انا نحن نزلنا الذكر واناله لحافظون.(الحجر٩)

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.(QS. al-Hijr ayat :9)

 

• Melalui Tulisan

Al-Qur’an dikumpulkan dan ditulis dalam lembaran-lembaran yang berupa pelepah kurma, pohon, daun, kulit, tulang, dan lain-lain. Sangat sulit untuk mendapatkan alat tulis sebagaimana yang biasa digunakan oleh orang-orang Persia dan Romawi. Karena jumlah alat tulisnya yang masih sedikit dan juga tidak bisa tersebar luas, sehingga orang-orang Arab menulis dengan apa saja yang dapat mereka pergunakan untuk menulis.

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit ra, ia berkata:

كنا عند رسول الله نؤلف القران من الرقاع.

Artinyat : ”Kami di sisi Rasulullah SAW mengumpulkan al-Qur’an dari kulit”.

 

Pengumpulan al-Qur’an dalam arti penulisan ini, prosesnya melalui tiga periode, yaitu:

 

Penulisan Al-Qur’an Masa Rasulullah SAW

Rasulullah mempunyai beberapa penulis wahyu, manakala ayat turun Nabi segera memerintahkan mereka untuk menulisnya, hal itu bertujuan untuk lebih berhati-hati dalam pembukuan pengukuhan serta pemeliharaan kitab Allah SWT. Di dalam Bhukhari disebutkan ada 7 orang penulis wahyu di zaman Rasul yaitu : Zaid bin Tsabit, Ubai bin Ka’ab, Mu’ad bin Jabal, Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qal, Abu Darda’, dan Abu Yazid bin As-zaku. Di antara ketujuh tersebut yang dari sahabat anshar adalah: Zaid bin Tsabit, Ubai bin Ka’ab, Mu’ad bin Jabal, dan Abu Yazid.

Namun demikian, masih banyak juga para sahabat lain yang menuliskan al-Qur’an dalam satu mushaf. Seperti mushaf Ibnu Mas’ud, mushaf Ali, mushaf Aisyah, dll. Mereka menuliskanya pada pohon, pelepah kurma, daun, kulit, tulang, dll. Karena alat tulis pada saat itu sulit di dapat di negeri Arab. (As-Syabuni, 53).

Di dalam penulisan al-Qur’an urutan ayat-ayatnya, sesuai dengan perintah Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi (taufiqi). Seperti perkataan malaikat Jibril kepada beliau Nabi:”Hai Muhammad! Allah memerintahkan kepadamu, supaya kamu meletakkan ayat ini pada permulaan ini dari surat ini”. Demikian pulalah Nabi berkata kepada para sahabat:”Letakkan ayat itu pada tempat ini”.

 

Penulisan Al-Qur’an Masa Abu Bakar Ash-Shidiq

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar dihadapkan pada langkah-langkah yang bahaya, penuh rintangan, serta kesulitan yang amat rumit. Di antaranya memerangi kemurtadan yang terjadi di antara kaum muslimin dan pengikut Musailamah Al-Kadab. Peperangan Yamamah adalah yang amat dasyat dan menyedihkan yang banyak dari para quraa’ dan hufadz gugur, sehingga mencapai 70 orang ternama.

Kemudian dengan adanya kejadian di atas sayyidina Umar r.a. datang kepada sayyidina Abu Bakar. Beliau sangat perihatin atas terjadinya peperangan yang mengakibatkan banyaknya sahabat yang hafal Qur’an gugur di medan peperangan, sehingga dikhawatirkan banyak al-Qur’an yang hilang. Dan beliau Umar meminta kepada Abu Bakar untuk segera mengumpulkan para quraa’ dan hufadz karena takut kehilangan mereka lagi, dan segera membukukan al-Qur’an dalam satu mushaf. (as-Shalih, 74).

Mula-mula Abu Bakar ragu, tapi pada akhirnya beliau menerima usul sahabat Umar. Kemudian beliau mengutus Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an dan menjadikannya satu mushaf. Setelah Zaid bin Tsabit mendapat perintah, beliau lalu meneliti dan mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang ditulis di pelepah kurma, pohon dan dari dada para sahabat ternama.

Beliau menggunakan pedoman yang amat tepat dan jitu, sehingga menjamin terpeliharanya kitab Suci itu dengan kewaspadaan yang sempurna dan kecermatan yang detail. Beliau tidak hanya mencukupkan apa yang dihafal, ditulis, dan apa yang didengarnya, tetapi beliau tetap meneliti secara cermat dengan berpedoman dua sumber. (al-Qathan, 126).

Dua sumber utama itu adalah :

1.Sesuatu yang telah dihafal oleh para sahabat.

2.Sesuatu yang telah ditulis di hadapan Rasulullah SAW.

Karena sangat berhati-hatinya beliau tidak mau menerima apa yang telah tertulis sebelum ada dua saksi adil yang menyatakan bahwa ayat itu telah tertulis di hadapan Rasulullah SAW. Ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud:

قدم عمر فقال: من كان تلقى من رسول الله صلى الله عليه وسلم شيئا من القران فليأت به,وكانوا يكتبون ذلك فى الصحف والالواح والعشب وكان لايقبل من احد شيئا حتى يشهد شهيدان.

”Umar datang seraya berkata, barang siapa mendapatkan suatu ayat dari Rasulullah, hendaklah ia bawa datang. Mereka menuliskan ayat-ayat itu pada suhuf, sabak, dan pelepah-pelepah kurma. Dia(Umar) tidak mau menerima ayat dari seorangpun sebelum disaksikan oleh dua saksi”.

Imam Ibnu Hajar berkata: Yang dimaksud dengan dua saksi adalah hafalan dan penulisan. Imam Sakhrawi r.a mengatakan yang dimaksud dua saksi adalah dua orang saksi yang menyaksikan bahwa ayat yang tertulis itu juga tertulis di hadapan Rasulullah SAW.

Kelebihan-kelebihan mushaf Abu Bakar :

1.Peneletian yang sangat berhati-hati, detail, cermat, dan sempurna.

2.Yang ditulis dalam mushaf hanya ayat yang sudah jelas tidak dinasakh bacaannya.

3.Telah ijmak umat secara mutawatir bahwa yang tercatat itu adalah ayat-ayat al-Qur’an.

4.Mushaf itu memiliki ‘Qiraah Sab’ah yang dinukil secara sahih.

Penulisan Al-Qur’an Masa Khalifah Utsman Bin ‘ Affan

Latar belakang pengumpulan al-Qur’an pada masa ini adalah karena Islam semakin meluas kedaerah-daerah dan banyaknya perbedaan bentuk qiraah di antara umat, sehingga timbul pertentangan dan perpecahan, sampai-sampai terjadi saling mengkafirkan di antara sesama muslim yang disebabkan perbedaan qiraah tersebut.

Itulah sebabnya, sahabat Utsman kemudian berpikir dan merencanakan untuk membendung keadaan ini dengan membuat satu mushaf yang kemudian memperbanyaknya dan membagi-bagikan keseluruh pelosok dan kota. Beliau meminjam mushaf sayyidah Habsah dan memerintahkan kepada Zaid bin tsabit, Abdullah bin Zubair, Saad bin Ash, dan Abdurrahman bin Hisyam untuk menyalin mushaf tersebut dan memperbanyaknya.

Unifikasi Teks Dan Bacaan Al-Qur’an

Salah satu sebab yang melatar belakangi munculnya keragaman bacaan al-Qur`an (variae lectiones) adalah ketidaksempurnaan aksara Arab yang digunakan ketika itu untuk menyalin teks al-qur`an. Di samping itu dikawasan-kawasan utama Islam yang memperoleh kiriman salinan mushaf utsmani telah berdiam para sahabat Nabi, yang masyarakat wilayah tersebut mempelajari bacaan al-Qur`an dari mereka.. Dari sinilah muncul keragaman bacaan dikalangan qurra` dari berbagai wilayah Islam.

Tapi, menurut sudut pandang lain, variae lectiones berasal dari Nabi sendiri. Gagasan ini dipijakkan pada sejumlah hadits yang menegaskan bahwasanya al-Qur`an diwahyukan dalam tujuh huruf. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Miswar ibn Makhramah dan Abd al-Rahman ibn al-Qari. Keduanya mendengar Umar ibn al-Khatab berkata bahwasanya Hisyam ibn Hakim ibn Hizam pernah membaca al-Qur’an dengan bacaan yang tidak pernah di dengar oleh Umar.

Kemudian ketika diadukan kepada Nabi Beliau membenarkan dan bersabda “Sesungguhnya al-Qur`an diwahyukan dalam tujuh huruf, bacalah yang termudah darinya”. Demikkian pula, diriwayatkan dari Ubay ibn Ka`ab suatu ketika ia mendengar seseorang di dalam sebuah masjid membaca suatu bacaan al-Qur`an yang tidak dikenalnya. Ubay menegurnya, orang lain setelah itu juga melakukan hal yang sama. Mereka kemudian pergi menemui Rasul untuk mengklarifikasi bacaan-bacaan berbeda, dan Nabi membenarkan bacaan-bacaan itu.

Upaya standarisasi teks pada masa Utsman, dalam kenyataanya juga mengarah pada penyatuan bacaan al-Qur`an. Dengan eksistensi teks yang relatif seragam, tentunya akan meminimalkan keragaman bacaan. Tetapi, lantaran teks yang digunakan ketika itu belum mencapai tingkat yang sempurna, keragaman bacaan masih tetap mewarnai sejarah awal kitab suci kaum Muslimin.

Upaya Utsman dalam menciptakan keseragaman teks adalah dengan jalan standarisasi dan pemusnahan mushaf non-utsmani, dilanjutkan oleh al-Hajjaj ibn Yusuf al-Tsaqafi (714) yang memberikan perhatian sungguh-sungguh terhadap hal ini. Seperti tercermin dalan berbagai tindakannya, mulai dari pemusnahan mushaf non-utsmani, penyempurnaan otografi al-Qur`an, pengiriman salinan-salinan teks utsmani ke berbagai kota Islam, sampai pada usaha memeras keluar qira`ah Ibnu Mas`ud dari peredarannya di kalangan kaum Muslimin pada masanya.

Proses unifikasi ini telah mewarnai sejarah teks al-Qur`an selama abad pertama Hijriyah dan hampir mencapai tujuanya pada masa Ibn Mujahid. dimana bentuk tradisionalisme yang kaku berhasil memapankan diri. Kecenderungan yang kuat ke arah standarisasi bacaan semakin mengkristal pada masa-masa selanjutnya.

Penemuan mesin cetak oleh Johanes Guetenberg di Mainz, Jerman pada abad ke-XV dan penggunaannya dalam pencetakan al-Qur`an, telah mempercepat penyebaran naskah yang dicetak menurut suatu sistem bacaan. Sekalipun sistem bacaan yang tujuh disepakati dalam teorinya sebagai bacaan-bacaan otentik al-Qur`an.

Dalam kenyataannya hanya dua dari kesekian riwayat bacaan al-Qur`an, yang dicetak dan digunakan dalam Islam dewasa ini. Riwayat pertama, Warsy `an Nafi`, digunakan sejumlah kecil kaum Muslimin di daerah barat dan barat laut Afrika, serta di Yaman, khususnya dikalangan sekte Zaidiyah.

Sementara riwayat kedua, Hafsh `an Ashim, digunakan mayoritas kaum Muslimin dihampir seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia. Pencetakan al-Qur`an edisi standar Mesir pada 1923 yang disalin dengan bacaan Hafs `an Ashim telah menjadikannya semacam teks yang absolut, dan dapat dibayangkan bahwa pada masa-masa mendatang bacaan Hafs `an ashim ini akan menggusur eksistensi tertulis bacaan lainnya yang tersisa.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa proses unifikasi teks dan bacaan al-Qur`an yang dimotori oleh Khalifah Utsman bin ‘Affan baru mencapai titik kulminasi dengan dipublikasikannya al-Qur`an edisi standar Mesir pada 1923. Edisi Mesir ini, seperti yang kita lihat telah berhasil menciptakan keseragaman yang hampir bersifat absolut dalam teks dan bacaan al-Qur`an. (as-Shalih, 99-100)

Perbedaan Qira’ah Menyebabkan Perbedaan Pemahaman terhadap Al-Qur’an

Orang-orang yang menguasai al-Qur’an adalah mereka yang menerimanya dari orang-orang yang dapat dipercaya dan imam demi imam sampai kepada Nabi SAW. Adapun mushaf yang mereka terima itu tidak bertitik dan bersyakal. Bentuk kalimat di dalamnya pun mempunyai beberapa kemungkinan berbeda-beda, maka kalimat itu akan dituliskan dengan salah satu wajah dalam mushaf, kemudian ditulis pula dalam mushaf lain dengan wajah lain.

Memang, para sahabat itu berbeda pengambilan mereka dari Rasulullah SAW. Sebagian mereka ada yang membaca dengan satu huruf dan ada yang membaca dengan dua huruf, bahkan yang lain ada yang tambah lagi. Dalam keadaan seperti itulah mereka tersebar keseluruh negeri, sehingga tersebarlah berbagai qiraat dalam bacaan al-Qur’an.

Di tambah dengan adanya lahjah atau dialek di kalangan suku Arab yang bermacam-macam dan juga Nabi sendiri di dalam mengajarkannya memakai berbagi versi, Sehingga timbul ilmu qiraah dan perbedaannya. Lahirnya sebagian besar perbedaan(qiraat) tersebut dikembalikan pada karateristik tulisan Arab itu sendiri. Bentuk huruf tertulisnya dapat menghadirkan suara pembacaan yang berbeda, tergantung pada perbedaan tanda titik yang diletakkan di atas bentuk huruf atau di bawahnya serta berapa jumlah titik tersebut.

Demikian halnya pada ukuran-ukuran suara (vocal) pembacaan yang dihasilkan. Perbedaan harakat-harakat(tanda baca) yang tidak ditemukan batasannya dalam tulisan Arab asli memicu perbedaan posisi i’rab dalam sebuah kalimat, yang menyebabkan lahirnya perbedaan makna(dalalah).

Dengan demikian, perbedaan karena tidak adanya titik(tanda huruf) pada huruf-huruf resmi dan perbedaan karena harakat yang dihasilkan, disatukan, dan dibentuk dari huruf-huruf yang diam(tidak dibaca), merupakan faktor utama lahirnya perbedaan qiraat dalam teks yang tidak punya titik sama sekali atau yang titiknya kurang jelas.

Contoh perbedaan karena ketiadaan titik pada bentuk huruf tertulis:

Ayat 48 surat al-A’raf:

ونادى اصحاب الأعراف رجالا يعرفونهم بسيماهم قالوا مااغنى عنكم جمعكم وماكنتم تستكبرون

Sebagian ulama qiraat membaca تستكبرون yang tertulis dengan huruf ba’(dengan satu titik) dengan bacaan تستكثرون , yaitu dengan huruf tsa’ (bertitik tiga).

Juga dalam ayat 57, firman AllahSWT:

وهو الذى يرسل الرياح بشرا بين يدي رحمته

Kata بشرا dibaca dengan huruf nun sebagai ganti dari ba’, sehingga menjadi نشرا. Bagaimanapun juga perbedaan-perbedaan ini, dan apa yang mirip dengannya, tidak menyebabkan perbedaan dari segi makna yang umum dan tidak dari segi penerapannya secara fiqh. Untuk lebih detailnya anda bisa membaca di kitab Mazhab Tafsir karangan Ignaz Goldziher.

Di dalam kitab al-Itqan disebutkan bahwa qiraah dari segi kualitas itu ada yang mutawatir, masyhurah, ahad, syadz, maudlu’, dan mudarraj. Adapun dari segi kuantitas ada qiraah sab’ah, qiraah ‘asyr, ada pula qiraah arba’asyarah, namun yang lebih unggul dan masyhur adalah qiraah sab’ah. Qiraah sab’ah ini disandarkan pada tujuh imam, yaitu : Nafi’, ‘Ashim, Hamzah, Abdullah bin Amir, Abdullah bin Katsir, Abu Amar bin al-‘Alla’, dan Ali al-Kisa’i.( As-Syabuni, 232)

 

Pendekatan Dalam Tafsir

Pendekatan yang di lakukan dalam menafsirkan al-Qur’an sangatlah tergantung pada kecenderungan dan sudut pandang sang mufassir, serta latar belakang keilmuan dan aspek-aspek yang melingkupinya. Di samping ilmu pengetahuan, yang kerap di jadikan pijakan dalam interpretasi teks al-Qur’an adalah adanya kepentingan, baik politik,ekonomi, ideologi, hingga kepentingan agama itu sendiri.

Sejarah mencatat, penafsiran al-Qur’an mulai tumbuh sejak awal pekembangan Islam.Yaitu pada saat para sahabat tidak mampu memahami kandungan sebuah ayat, mereka menanyakannya kepada Nabi. Dalam konteks ini nabi berposisi sebagai Mubayyin penjelas terhadap segala persoalan umat. Bentuk penafsiran nabi pada waktu itu adalah: penegasan perincian makna, perluasan dan penyempitan makna, kwalifikasi serta pemberian contoh. Sedangkan motifnya adalah, pengarahan, aplikasi, dan pembetulan atau koreksi. (Suryadilaga, 40).

Ada dua metode utama dalam penafsiran al-Qur’an yaitu bil-ma’tsur. Tafsir ini yang mendasari pembahasan dan sumbernya pada riwayat. Cara ini kemudian dikenal sebagai sebuah metode penafsiran al-Qur’an yang disebut dengan metode riwayah. Sebagai perimbangan dari metode ini timbullah satu metode lainnya yaitu tafsir bil-ra’y yang mendasari sumbernya pada penalaran dan ijtihad.

 

C.Penutup

Dari uraian singkat di atas kita bisa mengetahui liku-liku perjalanan al-Qur’an sejak mulai diturunkannya kira-kira 15 abad yang lalu hingga bisa sampai saat ini. Al-Qur’an yang kita baca sehari-hari, merupakan bentuk asli (orisinil) sebagaimana bentuk yang ada pada zaman Nabi yang kemudian dikumpulkan ditulis dalam satu mushaf oleh para sahabat pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan.

Demikianlah pembahasan singkat tentang al-Qur’an ditinjau dari aspek normatif, yang merupakan salah satu bagian dari tiga aspek tinjauan al-Qur’an, yaitu tinjauan dari aspek normatif, historis, dan fenomologis. Terakhir, kami tidak akan meminta kritik yang konstruktif sekalipun, kami ngeri mendengarnya. Terima sajalah permintaan maaf kami atas segala kekhilafan. Sekian Wallahu a’lam.

Bagikan

Leave a Comment