BERBUAT BAIK DENGAN TETANGGA

Sebagai sebuah agama, islam secara moral memberikan panduan terhadap umatnya dalam pergaulan social. Termasuk bagaimana pergaulan umat islam dengan tetangganya. Hidup rukun dengan tetannga sangan dianjurkan oleh islam. Perhatian islam terhadap bertetangga pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kehidupan umpatnya menjadi rukun.

 

Ruang Lingkup Tetangga

 

Bagi sebagian umat islam, batasan tetangga tambaknya masih kabur. Padalah jika menelisik lebih jauh, masyrakat yang tergolong tetangga memiliki hak dan kewajiban terhadap sesame tetangga. Dalam islam istilah tetangga terdapat perbedaan dikalangan ulama.

Dalam kitab fathul barii terdapat beberapa pendapat ulama terkait batasan tetangga sebagai berikut:

1. Tetangga adalah masyarakat yang rumahnya berdekatan dengan kita dan berjumlah 40 rumah di setiap sisi rumah kita
2. Tetangga adalah masyarakat yang rumahnya berdekatan dengan kita dan berjumlah 40 disekitar kita
3. Tetangga adalah masyarakat yang rumahnya berdekatan dengan kita dan berjumlah 10 rumah di setiap sisi rumah kita
4. Tetangga adalah masyarakat yang mengikuti sholat berjamaah berjamaah dengan kita

Namun demikian, batasan ini oleh sebagian ulama masih dianggap sebagai pendapat yang sangat lemah. Pembatasan di atas tampak masih terpengaruh di mana pernyataan tersebut terucap.

 

Posisi Tetangga Menurut Islam

 

Hadis nabi telah menjelaskan bahwa tetangga memiliki posisi yang sangat termulia. Penghormatan terhadap tetangga digolongkan sebuah kewajiban. Tidak segan-segan islam memberikan ketegasan tentang bagaimana seharusnya umat islam menghormat tetangga;

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْعَدَوِيِّ قَالَ سَمِعَتْ أُذُنَايَ وَأَبْصَرَتْ عَيْنَايَ حِينَ تَكَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ قَالَ وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya”

 

BERBUAT BAIK DENGAN TETANGGA
BERBUAT BAIK DENGAN TETANGGA

Wasiat Malaikat Jibril

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

 

Dari Aisyah Radliallahu ‘Anha dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda : “Jibril senantiasa mewasiatkanku untuk berbuat baik terhadap tetangga sehingga aku mengira tetangga juga akan mendapatkan harta waris.” (HR. Bukhori : 5555)

 

Subhanallah… Alhamdulillah..
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Malaikat Jibril senantiasa memberi wasiat kepada Nabi Muhammad SAW untuk selalu berbuat baik kepada tetangga.

 

Seringnya wasiat untuk berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai Nabi mengira bahwa tetangga juga akan mendapatkan harta waris, hal ini menunjukkan sangat pentingnya untuk berbuat baik kepada tetangga dan hindari menyakiti atau berbuat dholim kepada tetangga.

 

Kepada tetangga yang jelas-jelas tidak dapat harta waris saja kita dianjurkan untuk selalu berbuat baik kepada mereka, terlebih kepada orang yang mendapat harta waris, yakni orang tua, suami, istri, anak, saudara dan lain sebagainya.

 

Oleh karena itu, kita terus belajar bebuat baik kepada suami, istri, orang tua, saudara. Hindari menyakiti mereka baik perbuatan maupun perkataan.

 

Kita yakini apa yang datang dari Nabi adalah merupakan wahyu dari Allah lewat malaikat Jibril, sehingga kita selalu meyakini kebenarannya dan berusaha untuk mengamalkannya. Diantaranya wasiat untuk selalu berbuat baik kepada tetangga.

 

Kita hindari menyakiti tetangga sekecil apapun. Karena walaupun kecil, tetap tergolong menyakitinya. Dari Abdah bin Abi Lubabah Rahimahullah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

 

لَا قَلِيلَ مِن أَذَى الجَار

 

“Tidak ada istilah sedikit dalam mengganggu tetangga.”

 

Kita terus berusaha mohon ampunan Allah atas segala salah kita dan terus mohon ma’af atau halalnya atas salah kita kepada keluarga dan tetangga kita.

 

رَبِّي إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ اِلَّا أَنْتَ

 

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku. Karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.”

 

Yaa Allah.. Ampuni kami..
Terimalah amal baik kami.. Dan bimbing kami semua kejalan yang lurus. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin

Bagikan

Leave a Comment